Bg

Berita - IAIN Surakarta

Trik Tuman Menulis Artikel Populer yang Memesona dan Memikat

4 April 2019
Share to:

Oleh Winarto

Dunia tulis menulis saat ini mengalami babak baru, yakni penyajian yang praktis dan mudah dishare via media sosial. Kampus-kampus sudah membuat media online untuk menyambut fenomena tersebut. Oleh karena itu, meningkatkan kemampuan menulis menjadi sebuah keniscayaan, tak terkecuali jenis artikel populer.

Artikel populer sangat strategis karena pembacanya tidak hanya terbatas masyarakat akademik. Hal ini karena akses media tidak hanya bisa dilakukan oleh masyarakat kampus tetapi juga masyarakat awam.

Artikel yang sajiannya menarik dan ringan serta renyah akan membuat orang kepincut membacanya. Hal inilah harapan setiap penulis, tulisannya dibaca banyak orang. Namun untuk membuat artikel yang memesona dan memikat tak semudah membalikkan telapak tangan. Tulisan ini mencoba sharing pengalaman sekaligus belajar bersama, terutama untuk pemula.

Trik pertama, anggaplah bahwa menulis itu mudah, semudah menulis status facebook, twitter, instagram atau whatsapp. Menganggap menulis mudah itu dalam rangka melicinkan kita untuk segera memulai menulis. Sebab, kalau sudah berpandangan sulit, jadinya malas menulis.

Seorang penulis Amerika Serikat Mark Levy mengatakan jika permasalahan telah ditemukan maka tulislah sesegera mungkin. “Ungkapkan semua pemikiran anda saat ini tentang permasalah itu, begitu pula pemikiran anda saat pertama kalinya permasalahan itu timbul,” (Levy, 2005: 156).

Kedua, berfikirlah menulis itu penting. Penulis harus punya pandangan bahwa menulis itu penting dan bermanfaat. Menulis bisa dilakukan siapa saja, apapun profesi anda, berapapun usia dan apapun status anda, menulis itu harus.

Banyak alasan kenapa menulis itu penting. Kita bisa mencontoh semangat para peneliti, ilmuwan dan penulis lain, nama mereka “abadi” berkat tulisan. Para penulis selalu meyakini “dalil” bahwa menulis merupakan cara memperpanjang “usia”.

Nabi, para sahabat dan para ulama pun menggunakan media tulis dalam dakwahnya. Dari kegiatan Nabi dan para sahabat melaksanakan dakwah tertulis, terutama ditujukan kepada raja-raja, menunjukkan bahwa landasan jurnalistik telah diletakkan Nabi (Indriyanti, 2006: 112).

Apalagi sebagai mahasiswa, karya tulis merupakan bagian dari eksistensinya. Menulis bagi mereka semestinya tak hanya menjadi syarat wajib akademik tetapi juga hobi. Tugas-tugas seperti membuat makalah, proposal, menyusun skripsi butuh keahlian menulis.

Ketidakmampuan mahasiswa dalam menulis, akan berakibat buruk. Banyak di antara mereka yang tidak lulus tepat waktu karena gagap menulis tugas akhir. Bahkan, tak jarang yang gagal menyelesaikan studinya.

Ketiga, perdalam ilmu jurnalistik. Segala hal terkait kepenulisan ada dalam ilmu jurnalistik. Mulai cara membuat judul yang menarik, unsur-unsur tulisan, kerangka tulisan yang bagus, penulisan kata, kalimat dan tanda baca yang benar hingga trik memoles tulisan agar “menghipnotis” pembaca.

Untuk mendapatkan “sanad” keilmuwan jurnalistik yang diakui, ikutilah workshop-workshop jurnalistik. Atau bergabunglah dengan Lembaga Pers atau komunitas-komunitas kepenulisan lain yang menurut kalian paling nyaman.

Keempat, membiasakan menulis. Kebiasaan menulis, akan mempermudah dalam menentukan ide dan gagasan. Selain itu, akan semakin cepat memilih kata dan menyusun kalimat yang menarik. Sebelum menulis konten yang berat, mulailah menulis yang mudah dulu, baik dari sisi tema maupun sumber datanya. Apabila sudah terbiasa menulis, lambat laun akan menghasilkan banyak tulisan bagus.

Pengalaman itu pernah dibuktikan pada pembelajaran jurnalistik para santri Pesma Munawir Sjadzali Fakultas Syariah (Fasya) IAIN Surakarta. Mereka  tergolong masih pemula. Dalam pembelajaran itu, hanya beberapa kali pertempuan untuk mendalami jurnalistik dasar, selebihnya langsung praktik menulis. Para santri menulis sesuai passion mereka. Hasilnya, dalam kurun waktu satu semester telah terbit buletin Al Munawwir dan belasan artikel yang dimuat di website Fasya.

Memoles Tulisan

Anatomi artikel sebenarnya cukup sederhana. Pada umumnya anatomi artikel terdiri atas: Judul (head), nama penulis (by name), pendahuluan (intro), isi (content) dan penutup (closing) (Sudarmanto, 2015: 68). Namun, agar tulisan menarik, tak cukup  hanya memenuhi syarat formal tersebut. Oleh karena itu, diperlukan langkah lanjutan bagaimana trik memoles untuk mempercantik tulisan agar memikat pembaca.

Trik pertama pilihlah kata-kata yang familiar di telinga masyarakat. Hal ini karena artikel populer pada dasarnya segmennya untuk semua kalangan. Jadi pilihlah kata-kata yang sering didengar dan digunakan masyarakat. Sehingga pembaca langsung paham hanya sekali membacanya.

Tahap ini, penulis mulai berupaya bagaimana tulisan renyah dibaca. Penulis juga memerlukan keterlibatan hati untuk merasakan keinginan pembaca. Sehingga arah tulisan seperti yang diharapkan pembaca. Sekaligus memiliki karakter, rasa dan warna.

Apabila tulisan telah disusun, langkah berikutnya adalah proses editing. Proses ini penulis harus memastikan tidak ada kesalahan dalam tulisan. Selain itu, diperlukan ketelitian dan kecermatan agar tidak terjadi kesalahan. Misalnya dengan memvalidasi data, mengecek tata cara penulisan hingga detail soal penulisan ejaan nama dan gelar.

Selain di atas, penulis hendaknya membiasakan membaca artikel berkelas di buku, majalah, tabloid atau media masa lain. Di antara indikasinya, artikel tersebut menarik dibaca, tak ada kesalahan tanda baca, valid datanya dan nikmat ketika membacanya. Cermati dan teliti tulisannya, kemudian bandingkan dengan tulisan anda. Apabila sudah 11-12, maka tulisan anda bagus, siap dipublikasikan.

Demikian beberapa trik sederhana menulis artikel populer yang menarik. Di antaranya yakni menganggap mudah dan penting, perdalam ilmu jurnalistik dan membiasakan untuk memproduksi tulisan sebanyak-banyaknya. Selain itu juga diperlukan teknik-teknik memoles agar makin menarik.

Akhirnya, untuk mengasah kemampuan tersebut, mari menulis dan menulis. Ketika menulis sudah menjadi kebiasaan maka menulis betul-betul mudah, seperti keyakinan kita diawal tadi bahwa menulis itu mudah. Selamat menulis!

Referensi

Indriyanti, A. (2006). Belajar Jurnalistik dari Nilai-nilai Al-Qur’an. Sukoharjo: Samudera.

Levy, M. (2005). Menjadi Genius dengan Menulis. Diterjemahkan oleh Fahmy Yamani. Bandung: Kaifa.

Widarmanto, T. (2015). Pengantar Jurnalistik, Panduan Awal Penulis dan Jurnalis.  Yogyakarta: Araska.

 

Winarto, S.Th.I., M.S.I.

Penulis adalah dosen Fakultas Syariah IAIN Surakarta. Ia bisa dihubungi di HP. 081-328-563-610 atau melalui e-mail: winvenuz2@gmail.com.

 

 

Related Post