Bg

Berita - IAIN Surakarta

Diskursus Pengukuran Arah Kiblat dari Masa ke Masa

5 Agustus 2019
Share to:

FASYA-Rabu, 31/07/2019 Fakultas Syariah IAIN Surakarta kembali mengadakan kegiatan diskusi dosen bulanan. Pada edisi kelima ini, bertindak sebagai pembicara adalah Fairuz Sabiq, M.S.I.

Menyajikan sebagian hasil riset disertasinya yang berjudul “Arah Kiblat Masjid Agung Peninggalan Kerajaan Islam di Jawa (Perspektif Mitos dan Astronomi)”, Sabiq bermaksud melihat sisi lain dari jejak proses dan hasil pengarahan kiblat di masa lalu dan perkembangannya hingga masa kini di beberapa masjid yang dikategorikan sebagai ‘Masjid Agung’ (tingkat kota/kabupaten).

Fairuz Sabiq, M.S.I. sedang memaparkan materi

Kelima masjid dimaksud antara lain: (1) Masjid Agung Demak, (2) Masjid Agung Cirebon, (3) Masjid Agung Yogyakarta, (4) Masjid Agung Surakarta, dan (5) Masjid Agung Yogyakarta.

Diskusi dibuka dengan uraian apakah saat menunaikan sholat harus ‘ayn al-ka’bah (menghadap arah lurus yang mendekati-tepat ke Ka’bah) atau hanya jihah al-ka’bah (arah prakiraan umum). Sabiq memastikan tidak ada perdebatan mengenai pentingnya ‘ayn al-ka’bah dibanding jihah al-ka’bah saat melaksanakan sholat, baik dari sisi nash (sumber tekstual ajaran Islam) maupun pendapat sebagian besar ulama tentang hal ini.

‘Ayn al-ka’bah merupakan kepastian ilmiah, sementara jihah al-ka’bah semata-mata mengakomodir kelaziman arah suatu daerah atas Ka’bah, yang di Indonesia mengarah ke barat serong kanan. Jihah al-ka’bah, di sisi lain, juga dalam rangka mengakomodir diskursus tentang ‘Tuhan ada di mana-mana’ di mana memungkinkan kita sholat menghadap ke arah manapun itu; meski rasional, pendapat ini sangat lemah untuk diikuti.

Diskusi makin hangat ketika Sabiq mengupas kompleksitas otoritas ‘ayn al-ka’bah di antara masjid-masjid kuno di Jawa yang rata-rata merujuk ke figur populer Sunan Kalijaga sebagai ‘sang empu pengarah kiblat’ yang disegani di zamannya. Sunan Kalijaga bahkan lebih disegani dari Sunan Kudus yang disebut lebih pantas disebut sebagai ilmuwan mumpuni bidang Falak atau Astronomi Islam (dapat dilacak hingga keturunan Sunan Kudus di era kemudian hingga kini yang menekuni keilmuan Falak).

Para peserta diskusi

Sunan Kalijaga yang merupakan murid Sunan Ampel diduga memiliki keterkaitan dengan Mbah Bolong, ilmuwan Astronomi yang dekat dengan Sunan Ampel yang disebut-sebut mendesain arah kiblat Masjid Ampel (Surabaya) yang tingkat presisinya sangat tinggi di masanya dan bahkan layak disejajarkan dengan tingkat presisi pengukuran arah kiblat di era kemajuan teknologi saat ini.

Sejauh mana dugaan itu, belum ada yang bisa membuktikan, sekalipun keduanya sudah bisa dipastikan sebagai pakar di bidang Astronomi di zamannya.

Yang menjadi perdebatan panjang adalah tidak adanya jejak yang dapat membuktikan kefasihan Sunan Kalijaga di bidang Falak kecuali peninggalan pengukuran arah kiblat oleh beliau yang dari masa ke masa makin akurat: (1) Masjid Agung Demak, tahun 1466 M, titik kiblat kurang 12˚ 1’ ke arah utara; (2) Masjid Kadilangu Demak, tanpa tahun, titik kiblat kurang 8˚ ke arah utara; dan (3) Masjid Agung Cirebon, tahun 1480 M, titik kiblat kurang 5˚ 1’ 49.4˝ ke arah utara. Makin kecil angkanya makin akurat.

Perdebatan tentang Sunan Kalijaga di bidang Falak makin menjadi-jadi karena beliau dipahami sebagai ‘figur’ (dan permitosan tentangnya, barangkali?), bukan dipahami metode pengukuran arah kiblatnya serta dipelajari ilmunya. Akibatnya, tidak ada orang di sekitarnya yang mewarisi kepandaian Sunan Kalijaga di bidang Falak.

Di luar kisah dan hal-hal soal pengukuran arah kiblat, sisi mitos, astronomi, dan (barangkali) relasi kuasa menjadi isu-isu penting yang dirasa pak Sabiq layak diangkat sebagai penelitian.

Foto bersama diakhir diskusi

Riset ini bukan soal bagaimana lurus tidaknya arah kiblat atau bagaimana meluruskannya, melainkan juga siapa paling otoritatif yang di kemudian hari diikuti fatwanya sebagai ‘benar’ dalam soal arah kiblat dari masa ke masa, bahkan hingga kini. Kajian yang kental dengan nuansa sosiologi dan antropologi ini kelak akan menjadi rujukan penting bidang Falak di Indonesia. (afd)

 

(Materi presentasi bisa diunduh di sini.)