Fakultas Syariah Siapkan Profesional Hukum Hadapi Era Disrupsi

Fakultas Syariah Siapkan Profesional Hukum Hadapi Era Disrupsi
Bagikan

FASYA- Jumat (09/10/2020), Fakultas Syariah IAIN Surakarta menyelenggarakan workshop pendampingan Sidang Semu, Debat Hukum dan Lomba Karya Tulis Ilmiah Mahasiswa dengan tema “Menyiapkan Profesional Hukum Menghadapi Era Disrupti Peluang dan Tantangannya”.

Hadir dalam acara tersebut Wakil Dekan III Dr. Aris Widodo, S. Ag., MA., Wakil Dekan I Dr. Hj. Layyin Mahfiana, SH., M Hum., Koordinator Pelaksana Muhammad Julijanto, S. Ag., M. Ag.

Fakultas Syariah Siapkan Profesional Hukum Hadapi Era Disrupsi

Adapun narasumber Dr. Agus Riewanto, S. Ag., SH., MA. Dosen Pascasarjana dan Direktur Lembaga Konsultasi dan Bantuan Hukum (LKBH) Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta. Dan peserta mahasiswa tim sidang semu, debat hukum dan LKTI.

Fakultas Syariah Siapkan Profesional Hukum Hadapi Era Disrupsi

“Tujuan kegiatan tersebut dalam rangka mempersiapkan tim lomba yang akan menjadi delegasi dalam event-event lomba di masa yang akan datang,” demikian disampaikan Muhammad Julijanto sebagai koordiantor pelaksana dalam sambutannya.

Acara dibuka secara langsung oleh Dr. Aris Widodo, S. Ag., MA. Wakil Dekan III Bidang Kemahasiswaan, mengatakan bahwa pelaksanaan kegiatan ini dalam rangka memantapkan bekal bagi mahasiswa dalam lomba-lomba yang akan dilaksanakan.

Narasumber Dr. Agus Riewanto dalam kegiatan ini adalah orang yang mempunyai multi talenta dengan pengalaman dalam bidang Sidang Semu, Debat Hukum dan sekaligus Lomba Karya Tulis Ilmiah. Sehingga diharapkan mahasiswa mendapat spirit dan inspirasi yang bisa menjadi bekal dalam menghadapi lomba.

Sementara Dr. Agus Riewanto dalam pemaparannya memberikan motivasi kepada mahasiswa mulai dari sharing pengalaman hidup dalam bidang hukum, Agus bercerita pengalamannya dalam sukses strory yang dilalui dengan penuh perjuangan, mulai studi di Pondok Pesantren Modern Islam Assalaam, IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, sekaligus mengambil studi juga bidang hukum di Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah Yogyakarta.

Melanjutkan studi di Hukum Keluarga Pascasarjana IAIN Sunan Kalijaga 2000-2003, dan program Doktor Ilmu Hukum diselesaikan di UNS.

Selain itu mengawali kariernya sebagai CPNS di Kementrian Agama, menjadi komisioner KPU Kabupaten Sragen dua periode 2003-2008 terakhir sebagai Ketua 2008-2013, juri nasional Lomba Debat Konstitusi di MK, Staf Ahli DPRD Sragen, dosen Fakultas Hukum UNS dan Direkur LKBH UNS.

“Pentingnya kecakapan sosial di era disruptif, orang bicara dengan mesin, dengan robot, main tombol saja, anda bisa kenal saya tanpa bertemu, anda bisa cari di google, lihat medsos, komunikasi sudah berubah, conection global village-kita terhubungan semua orang,” terangnya.

Karier yang akan dihancurkan, sekretaris, keuangan, akuntansi, pembukuan, perekam materi, operator mesin, perakit mesin, teknisi informasi dan komunikasi, petugas transportasi, pelayan took atau shop and sales worker.

Sementara sisi positif era disrupsi; terjadi penghematan biaya, proses bisnis lebih simple, produk apapun lebih berkualitas, produk apapun lebih  terkontrol dan teratur, membuka pasar lebih terbuka dari terekslusi ke terinklusi, produk jasa lebih mudah diakses dan terjangkau, segala sesuatu lebih smart, akurat dan efektif.

Lebih lanjut Agus menjelaskan pengaruh teknologi informasi pada hukum.

TI dibutuhkan dalam proses pembuktian di pengadilan melalui penggunaan video, audio dalam sesi persidangan, pelaloran elektronik, video konferensi untuk saksi, dan penyimpanan file. Semua proses pengambilan keputusan di persidangan membutuhkan IT.

Kedua, pergeseran (shifting) besar-besaran. Satu juta pekerjaan konvensional akan hilang digantikan kecerdasan buatan (artificial intelligent) atau robotic, termasuk profesi hukum, seperti notaris, advokat. Firma hukum runtuh karena korporasi tidak mau lagi membayar mahalnya jasa advokat, tergantung aplikasi digital.

Oleh karena itu, mahasiswa dituntut untuk membaca secara kritis, mengauasai bahasa Internasional, berjejaring dan berorganisasi untuk melatih skill leadership dan network, berjering social, hidup harus bergandengan tangan, berjeraing, dan menguasai teknologi. Sehingga kita menjadi pemenang, demikian mengakhiri paparannya. (Muhammad Julijanto/ Ed.dw).


Bagikan

Leave A Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *