FATAWA Bersama HMPS HKI Kritisi Lagu “Aisyah Istri Rasulullah” Dalam Berbagai Perspektif

Tilik Kebijakan Pemerintah di Tengah Pandemi Covid-19, HMPS HPI Adakan Seminar Online
Bagikan

FASYA-Ahad (19/04/2020) Lembaga Semi Otonom Forum Fatwa Mahasiswa Fakultas Syariah (LSO FATAWA) bersama HMPS Hukum Keluarga Islam melaksanakan diskusi online bertema “Analisis Lagu Aisyah Istri Rasulullah Tinjauan Hukum Islam dan Gender”.

Diskusi ini dimoderatori oleh Syafa’atun dari Divisi Jurnalistik FATAWA dan diikuti oleh 253 peserta baik dari kampus IAIN Surakarta ataupun kampus lainnya.

Diskusi dimulai dengan sangat khidmat yang diawali dengan pembukaan dan perkenalan CV dari narasumber yang mengisi diskusi. Narasumber pertama adalah Muhammad Arief Hakimi Ketua Umum LSO FATAWA yang membahas lagu “Aisyah Istri Rosulullah” dalam perspektif hukum Islam.

“Seperti yang kita ketahui bahwa Sayyidah Aisyah r.a. adalah seorang Ummahatul Mukiminin. Bahkan, Allah Swt. pernah mengatakan bahwa Sayyidah Aisyah r.a. adalah ibu saya. Hal ini didasari dengan adanya kalimat “wa azwajuhu ummahaa tukum”. Maka sudah semestinya kita sebagai umat Nabi Muhammad saw. untuk belajar menghormati dan meneladani apa yang telah dilakukan oleh baginda Nabi Muhammad saw.

Berkenaan dengan viralnya lagu berjudul “Aisyah istri Rasulullah”, memang telah menuai kontroversi karena lirik lagu yang tercantum dalam lagu tersebut dianggap kurang sopan dan merendahkan Sayyidah Aisyah r.a. Dalam lirik lagu Aisyah istri Rasulullah juga digambarkan mengenai fisik seorang Sayyidah Aisyah r.a. yang mana hal ini adalah hal yang sangat kurang sopan jika dihadapkan kepada seorang Sayyidah Aisyah ra yang merupakan Ummahatul Mukminin,” kata Arief Hakimi.

Setelah pemaparan oleh pemateri pertama, diskusi dilanjutkan dengan sesi materi yang kedua, yakni berkenaan dengan lagu Aisyah Istri Rasullullah dalam perspektif gender yang disampaikan oleh Roudhotul Jannah, ketua umum HMPSHKI.

“Lagu ini menimbulkan pro- dan kontra-. Pihak pro-berpendapat bahwasanya lagu ‘Aisyah Istri Rasulullah’ justru mengandung pesan gerakan kesetaraan gender.

Narasi tentang kondisi dan perbedaan istimewa yang dimiliki perempuan adalah bagian gerakan feminisme untuk mengubah simbol bahasa yang bersifat maskulin.

Sedangkan pihak yang kontra- terhadap lagu ini berpendapat bahwa lagu tersebut menunjukkan bahwa perempuan hanya didefinisikan sebagai makhluk yang romantis dan lemah lembut. Padahal jika ditelusuri, Sayyidah Aisyah merupakan sosok yang luar biasa. Ia pemberani, cerdas, kritis,” kata Jannah

Pemaparan materi yang begitu komprehensif sangat dinikmati oleh para peserta. Setelah materi tersebut pungkas, dilanjutkan sesi tanya-jawab. Semua peserta diberi kebebasan dalam menanyakan perihal materi yang dipaparkan. Banyak juga feedback dari peserta yang menjadikan diskusi makin hidup. Setelah tanya jawab selesai, moderator menutup acara. (Anissa Widiyastuti/Ed.MY)


Bagikan

Leave A Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *