Islam dan Budaya Jawa

Islam dan Budaya Jawa
Bagikan

Oleh: Dewi Nur Halima

(Santri PESMA Munawir Sjadzali Fakultas Syariah IAIN Surakarta, Mahasiswi Hukum Ekonomi Syariah)

Di zaman postmodernisme, kita memahami bahwa masyarakat Jawa masih memiliki akulturasi yang tinggi terhadap nilai-nilai Islam. Adanya kebudayaan Jawa yang berkembang di daerah-daerah menunjukkan Islam menyebar di Indonesia melalui kultur kebudayaan. Kita dapat melihat di daerah sekitar Pantura seperti Jepara, Demak, Pati, Kudus, dan Rembang. Tradisi kebudayaan masyarakat Jawa di daerah ini masih sangat kental dengan budaya dan adat istiadat kejawen atau tradisional.

Seperti tradisi memberikan sedekah sering dilakukan oleh para keluarga Jawa pada tetangga sebagai wujud rasa syukur atas nikmat yang diberikan Tuhan. Biasanya kegiatan tersebut dilakukan dengan cara bersama-sama di kediaman orang yang memiliki mempunyai hajat atau acara besar atau pada ketetapan hari-hari besar. Dengan mengumpulkan para tetangga dan diiringi dengan doa kepada Sang Maha Kuasa. Tradisi adat tersebut biasanya dilaksanakan masyarakat desa yang masih melestarikan adat kejawen yang dikenal dengan slametan (shodaqoh keselamatan).

Tradisi slametan menjadi simbolisasi masyarakat Jawa dalam menciptakan Islam kultural. Dakwah agama Islam yang diajarkan para Walisongo dalam menciptakan kerukunan bersikap secara santun dan toleran. Sehingga masyarakat Jawa banyak yang memeluk agama Islam lantaran corak dakwah para wali bersifat inklusif. Mafhum, masyarakat Jawa perlu masa transisi dari tradisi hinduisme menuju tradisi baru yaitu Islam Nusantara. Satu sisi mereka mempercayai dan mengakui kebenaran yang tersimpul dari ajaran-ajaran Islam, namun pada sisi lain mereka tetap mempercayai hal-hal yang berhubungan dengan tradisi warisan kebudayaan pra Islam yaitu Hindu-Budha. Mengutip keadaan tersebut sampai saat ini masih tetap eksis, meskipun sebagian masyarakat Jawa sudah tidak lagi memaknai sakralitas yang terdapat pada kebudayaan terdahulu.

Fakta sosialnya, tradisi Jawa tersebut menunjukkan adanya praktik keagamaan yang sering dijumpai adalah slametan. Salah satu adat istiadat yang dianggap sebagai ritual keagamaan dalam masyarakat Islam Jawa. Mengadakan upacara slametan terkadang diambil berdasarkan keyakinan keagamaan yang murni, akan tetapi terkadang hanya menjadi sebuah kebiasan rutin yang dijalankan dalam suatu adat keagamaan. Peristiwa itu menjadi kebiasaan rutin yang dapat diartikan dalam kehidupan keseharian masyarakat Jawa tradisional  yang masih kental dengan kebiasaan lamanya. Masyarakat Jawa merupakan suatu kesatuan masyarakat yang diikuti oleh norma-norma hidup karena sejarah, tradisi, maupun agama. Hal ini dapat dilihat dalam keadaan masyarakat Jawa di sekitar kita yaitu dengan ciri kekerabatan antar sesama masyarakat.

Banyak sekali anak-anak di Jawa yang masih kental terhadap hukum adat yang ada di daerah. Misalnya dalam hal-hal tertentu setiap lelaki masih bekerja membantu kerabat dalam mengerjakan tanah pertanian, membuat rumah, memperbaiki jembatan, dan lain sebagainya. Kebudayaan yang mereka bangun merupakan serangkaian hidup tolong menolong antar warga.

Keadaan masyarakat di Jawa masih sangat terjalin keaslian dan kedamaian antar warga dan keluarga inilah yang menjadikan adat kebiasaan turun-temurun dari nenek moyang yang masih dijalankan di masyarakat Jawa. Internalisasi kebiasaan yang berurutan dan sudah menjadi keyakinan mutlak bisa menjadikan sebuah tradisi yang awet. Tanpa latar belakang dari budaya luar pun, tipikal masyarakat Jawa masih ajeg dan inklusif akan tradisi yang dibawakan oleh nenek moyangnya.

Namun, perkembangan budaya saat ini mengalami pengaruh globalisasi. Akan tetapi tidak jarang masyarakat Jawa masih melestarikan tradisi untuk melestarikan kebudayaan dalam kehidupan sehari-hari. Paham Islam kultural memiliki akar yang kuat sehingga masyarakat masih menjalankan tradisi. Oleh karena itu, meskipun banyak dari masyarakat Jawa yang sudah masuk Islam, namun keaslian akan tradisi Jawa masih dijunjung sekali seperti tradisi slametan yang masih sering kita jumpai di setiap acara-acara penting kehidupan masyarakat Jawa.

Slametan diadakan pada setiap kesempatan peristiwa-peristiwa penting yang melibatkan masyarakat, keluarga, tetangga, dan sanak saudara. Sehingga hal ini menunjukkan bahwa masyarakat yang rukun tanpa membedakan dari mana dan siapa mereka. Rukun yang berarti harmoni sosial dan ketentraman serta ketenangan bersama merupakan nilai sosial yang amat penting dalam kehidupan masyarakat desa.

Sebuah realitas yang unik ini merupakan pembumian akan tradisi lokal. Siapa yang tidak bangga dengan kultur yang dimiliki daerah Jawa yang masih sempat kita telurusi perkembangan dan keunikannya. Dengan memanfaatkan sedikit rezeki yang diberi Tuhan, kita bisa menyedekahkan apa yang kita punya melalui acara slametan. Meskipun bagi masyarakat Jawa masih banyak yang menggunakan yang mencampurkan dengan simbolis mistik kejawen seperti adanya kemenyan dan bunga-bungaan. Akan tetapi mereka masih tetap memasukkan unsur Islami dan memadukannya dengan adat Jawa tersebut. Jadi menurut saya, slametan bisa menjadi ajang untuk mengungkapkan rasa syukur pada Sang Kuasa dan menjadi ajang untuk bersedekah antar sesama umat muslim dalam menjaga persaudaraan. (Ed. dw)


Bagikan

Leave A Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *