Masyarakat Lasem dan Inspirasi Keberagaman

Masyarakat Lasem dan Inspirasi Keberagaman
Bagikan

FASYA-Rabu (30/06/2021) Konsorsium Keilmuan Fakultas Syariah IAIN Surakarta kembali mengadakan Diskusi Dosen Bulanan edisi Juni 2021 dengan topik “Interaksi Masyarakat Lasem Kab. Rembang dalam Keberagaman”. Hadir sebagai pembicara adalah Junaidi, S.H., M.H.

Tidak seperti kawasan-kawasan lain di pulau Jawa yang keharmonisan antara etnis Jawa dan Tionghoa sering menemui titik jenuh dan adakalanya berada dalam titik didih, hubungan kedua etnis ini berikut keterlibatan etnis Arab di Lasem (kabupaten Rembang) agaknya menjadi pengecualian. Junaidi menjelaskan keberagaman dan koeksistensi bermasyarakat di Lasem ibarat kesempurnaan kerukunan umat manusia.

Menurut Junaidi, keharmonisan hubungan ketiga etnis berbeda karakter ini tidak terjadi tiba-tiba. Jejak pentingnya dapat ditelusuri dua ratusan tahun lalu, tepatnya tahun 1742 saat terjadi perang antara masyarakat Lasem melawan Belanda. Perang ini dikenal dengan Perang Sabil. Perang ini juga dikenal dengan sebutan Perang Kuning, mengingat banyaknya keterlibatan masyarakat Tionghoa saat itu. Yang unik, meski didominasi orang Tionghoa, komandan perangnya diserahkan kepada figur penting Arab di Lasem saat itu, yaitu Kyai Aly Baihowi dan dikenal dengan nama Mbah Joyo Tirto.

Menurut Junaidi, mengutip Gus Zaim (K.H. Ahmad Zaim Ma’shoem), salah seorang pemuka agama di Lasem, sejarah panjang keharmonisan antar etnis di Lasem menjadikan hubungan sosialnya sangat cair, sehingga disebut-sebut sebagai lokasi ‘tanpa sumbu konflik’. Sumbu konflik di suatu masyarakat bisa sangat beragam. Bisa keberagamaannya, bisa ekonominya, dan bisa juga keetnisannya. Di Lasem, semua itu tidak terjadi dan bahkan sanggup meredam pengaruh buruk dari luar.

Gus Zaim mengibaratkan konflik dari yang masuk ke Lasem itu seperti tetesan tinta yang jatuh pada suatu ember yang penuh dengan air dan airnya meluber ke mana-mana. Selain memudar, tetesan tinta juga akan turut meluber ke luar ember karena ada aliran air yang mengantarnya. “Ketika kita merawat dengan cara yang tidak dibuat-buat, orang-orang (di luar sana, di Lasem) insyaallah mau stabil dengan sendirinya.” Begitu penjelasan Gus Zaim dalam suatu wawancara bersama Junaidi.

Kritik atas Status-Quo
Adakalanya narasi sejarah hanya dimiliki oleh para pemenangnya, atau setidaknya para aktor utamanya. Namun begitu, kritik perlu diutarakan untuk tidak saja menguji tesis yang telah mapan dan dimapankan, namun juga melihat sejauh mana ia mengatasi potensi konflik yang pernah dan akan dihadapi. Tujuan kritik tidak selalu untuk mempertanyakan kesahihan tesis, melainkan juga memperkaya bangunan tesis tersebut di hadapan kritik dan skeptisisme atas status quo narasi sejarah tersebut.

Salah satu kritik sekaligus masukan penting disampaikan Ahmad Hafidh, dosen Fakultas Syariah kelahiran Rembang (lokasi penelitian Junaidi). Beliau menyinggung soal bagaimana relasi kuasa dan social gap (kesenjangan sosial) terjadi di Lasem. Di masa Orde Baru, Lasem pernah digempur dengan program Pembauran oleh presiden Soeharto di mana salah satu kegiatannya adalah menghapuskan aksara Han (China) yang menempel di dinding-dinding masyarakat Tionghoa.

Pak Hafidh melanjutkan, sosiogram ketika itu menjadi rusak karena pengaruh kekuasaan. Sebabnya, kerukunan antar masyarakat di Lasem itu terlalu cair dan ditengarai tidak cukup punya kekuatan untuk menangkis hal-hal kuat dari luar yang berusaha melemahkannya. Sesuatu yang sifatnya cair itu memang bagus, menurut beliau. Namun, jika terlalu cair itu berbahaya. Apa yang terjadi di Lasem tidak seperti Piagam Madinah di masa Rasulullah di Madinah. Kala itu, Piagam Madinah memiliki kekuatan perekat, pelindung, sekaligus peneguh sosiogram masyarakatnya.

Kritik tetaplah kritik. Ia hadir sebagai bumbu pelengkap bagi kekokohan bangunan tesis penelitian. Di akhir diskusi, Junaidi berterima kasih atas kontribusi dan kritik penting dari pak Ahmad Hafidh. (afd)


Bagikan

Leave A Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *