Menyia-nyiakan Waktu dan Kesempatan

Wanita dan Pendidikan
Bagikan

Oleh: Indriyanti W R

(Santri PESMA Munawir Sjadzali Fakultas Syariah IAIN Surakarta, Mahasiswi Hukum Ekonomi Syariah)

Kesempatan adalah sesuatu yang timbul karena adanya peluang dan kesempatan tidak datang secara berulang. Kesempatan itu selalu muncul setiap waktu tanpa disadari namun sering kali terlewati. Kesempatan mudah terlewat hanya dengan adanya ketidaktahuan atau keterlambatan manusia menyadarinya atau memang sadar untuk melewatkannya. Dalam dunia kerja ada yang dinamakan kesempatan kerja menurut Sumarso (2003:41) kesempatan kerja adalah lapangan pekerjaan yang sudah diduduki (employment) dan masih terdapat lowongan.

Kita seringkali menyia-yiakan waktu dan secara tidak sadar kita lebih mementingkan mengobrol, memainkan gawai (hp), menggunjingkan orang, melamun dan tidur. Lalu untuk apa waktu yang kita lewati ini dari kecil hingga dewasa dan kita tidak pernah menciptakan sesuatu apapun yang bernilai dalam hidup kita. Ketika kita sadar bahwa kita harus melakukan sesuatu dalam pikiran kita terlintas “terlambat…”. Pemikiran dan perasaan terlambat akan sesuatu yang harus kita perjuangkan inilah yang membuat kita tidak akan pernah berkembang. Seolah perjalanan kita hanya akan mati ditengah jalan dan pada akhirnya akan ada perasaan gelisah yang tidak menentu, merasa kecil, tak berguna, payah, dan tidak dibutuhkan.

Membayangi diri kita hingga kita terjerumus kedalam kekelaman yang begitu mendalam hingga kita sulit bangun dan disaat kita mengintip dunia, diluar sana sudah terlihat perkembangan dunia, manusia semakin cerdas, teknologi semakin maju, budaya semakin berkembang membuat kita semakin tidak percaya diri untuk keluar dan melihatnya. Membuat kita terkurung terus menerus didalam dimensi waktu dan pada akhirnya membuat kita mengambil keputusan yang salah dan pasrah.

Bahkan sebagai seorang muslim kita diajarkan untuk lebih baik memanfaatkan waktu agar kita tidak merugi didalam kehidupan.“ Demi Masa, Sesungguhnya manusia berada dalam kerugian, Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan serta saling menasehati untuk kebenaran dan menasehati untuk kesabaran”. Q.S ‘Asr: 103 (1-3). Dalam surah tersebut dikatakan bahwa pada hakikatnya manusia dalam keadaan merugi, kecuali orang-orang beriman yang melakukan kebajikan (hal yang bermanfaat) dan saling menasehati dalam kesabaran dan kebenaran.

Betapa ruginya kita jika kita membuang-buang waktu yang sangat berharga detik demi detik, menit demi menit, jam demi jam, hari demi hari hingga berganti tahun tanpa kita sadari kita membuang banyak waktu untuk melakukan hal-hal yang bermanfaat bagi kita dan bahkan orang lain, berkarya, berinovasi, berkreasi mengubah dunia kita dengan hal-hal kecil. Hidup produktif dan bermanfaat, itulah tujuan kehidupan manusia.

Dalam ajaran Islam diajarkan bahwa kehidupan dunia hanyalah sebentar ibarat seseorang meneguk air dan itu tidak perlu waktu berjam-jam, hal ini menandakan betapa singkatnya kehidupan manusia. Berapa banyak kesempatan yang telah kita lewati dari kita lahir hingga dewasa ini. Adakah sesuatu yang sudah kita perbuat?, Sudahkah kita menjadi manfaat? Pernahkah kalian bertanya demikian?, pernahkan kalian berpikir berapa uang yang kita buang jika waktu itu dinilai dengan uang berapa banyak uang yang telah kita buang.

Pemikiran manusia tentang kata “terlambat” membatasi individu untuk terus bergerak maju, yang pada akhirnya hanya akan ada penyesalan. Ketika kita masih kecil sesuatu yang kita pikirkan adalah bermimpi, berangan-angan dan saat ada kesempatan yang ada yang kita pikirkan saat itu adalah nanti aja masih kecil masih ada waktu panjang. Ketika kita sudah berada diusia remaja yang kita pikirkan hanyalah bersenang-senang sibuk mencari jati diri, menanyakan apa dan siapa aku?, disaat ada kesempatan untuk berprestasi dan berkarya disitu muncul pikiran, “ah terlalu sibuk dan membingungkan.”

Pertanyaan yang selalu muncul dibenak kita “Bagaimana?”, tetapi tidak ada realita yang kita lakukan untuk menjawabnya dan itu berjalan terlewati begitu saja. Ketika usia kita menganjak dewasa, bertambahlah permasalahan, bersantai-santai menikmati hidup, berjalan saja mengikuti arus hingga lalai dengan tujuan hidup kita asik dengan gemrisik sosial media dan pola sosial yang tidak bermanfaat hedonisme, konsumenrisme, westerenisasi, individualis, ansos dan acuh tak acuh. Semua itu yang membuat kita tidak produktif dan tidak aktif berkarya, yang kita pikirkan hanya kesenangan dan disaat kita sudah menginjak masa tua kita baru menyadari berapa kali kesempatan yang telah terlewati jangan sampai berakhir sia-sia. (Ed. af)


Bagikan

Leave A Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *