Obrolan Buku: Indonesia Itu Hebat, Namun Tak Sadar Kalau Hebat

Obrolan Buku: Indonesia Itu Hebat, Namun Tak Sadar Kalau Hebat
Bagikan

FASYA- Sabtu (5/09/2020), Lembaga Semi Otonom Literasi, Riset, dan Jurnalistik (LIRIK) Fakultas Syariah kembali menyelenggarakan obrolan buku secara daring untuk kali ketiga melalui WhatsApp grup.

Kali ini, obrolan buku dengan judul “Kagum Kepada Orang Indonesia” yang dikisahkan oleh mahasiswi Hukum Keluarga Islam yaitu Verawati.

Obrolan Buku: Indonesia Itu Hebat, Namun Tak Sadar Kalau Hebat

Buku karya Emha Ainun Nadjib atau biasa kita panggil Cak Nun tersebut, terbit pada tahun 2015. Buku ini sebagian berisi tentang pandangan, harapan, dan bahkan juga tentang sisi-sisi kualitas bangsa Indonesia.

Ada alasan pengisah tertarik dan merubah pola pikirnya ketika ia membaca judul Dunia Besar Karena Indonesia. Disitu dituliskan “Kalau terpaksa agak sombong, sesungguhnya banyak hal yang menjadi kebesaran dan kemajuan dunia disebabkan oleh negeri kita ini yakni Indonesia.”

Dari buku “Kagum Kepada Orang Indonesia,”  dijelaskan jika Indonesia memiliki peradaban, pertukangan, perkayuan, serta pembangunan yang tidak ada sekolahnya tetapi di warisi secara turun temurun oleh manusia Indonesia. Belum lagi di bidang pertanian, perkebunan, dan pelayaran.

Tetapi kebanyakan orang Malaysia memandang rendah negara Indonesia karena dianggapnya hanyalah TKI sebagai masyarakat kelas dua. Padahal jika sewaktu-waktu TKI pulang mereka akan kalang kabut. Dari sinilah banyak orang yang menyebut bahwa Indonesia tergolong orang yang hebat namun tidak tahu bahwa dia hebat.

Dibuku disebutkan bahwa ada 4 golongan manusia yakni: orang hebat dan tahu bahwa dia hebat, orang yang hebat tetapi tak tahu bahwa dia hebat, orang yang hebat tapi tidak tahu kalau dia hebat, dan orang tak hebat dan dia tidak tahu kalau dia tidak hebat. Mungkin banyak yang berfikir terutama pengisah obrolan buku ini kekaguman apasih yang dimaksud si penulis?.

Alasan pengisah mengambil buku ini untuk dijadikan obrolan yaitu pada  awalnya dia memandang Indonesia sebagai negara yang jauh tertinggal, ternyata banyak menyimpan kebesaran didalamnya.

Banyak TKI Indonesia yang berada di luar negri, mereka sangat dipandang rendah tetapi sebenarnya karena TKI-lah negara mereka bisa berkembang. Dan dari buku inilah bisa merubah fikiran orang termasuk si pengisah.

Sesungguhnya Cak Nun bangga dengan Indonesia karena Indonesia memilihi potensi unggulan walaupun kurang didukung oleh budaya, struktur sosial politik yang melingkupi mereka. Karena itulah judul buku ini cermin kekaguman pada bakat positif Indonesia. Pada akhir halaman 72 disinggung mengenai Gus Dur yang mempunyai presepsi sendiri ketika membahas sirnanya NKRI.

Jika ada yang mengatakan bahwa Indonesia dipenuhi oleh para pemalas, hipokrit, senang mengeluh, dan kerap mencari jalan pintas, itu berarti dia tidak benar-benar berjumpa dengan orang Indonesia. Hanya segelintir waktu yang diluangkan untuk bertemu kemudian mengambil kesimpulan secara terburu-buru.

Memang salah satu kehebatan bangsa Indonesia adalah kesanggupannya menciptakan citra di mata dunia bahwa dirinya dekaden, bodoh, kacau, miskin, dan moral rusak. Itulah pendekar sejati.

Bukankah untuk memaksimalkan kesalehan, anda justru harus menutupi kesalehan diri tersebut? Indonesia tidak pernah mengejar-ngejar kemajuan karena sudah maju. Indonesia tidak pernah bernafsu terhadap kehebatan karena aslinya memang sudah hebat.

Sebelum menutup diskusi dan obrolan buku pengisah menyampaikan statemen penutupnya: “Berbanggalah menjadi bagian dari Indonesia. Keanekaragaman lah yang dimiliki Indonesia yang membuat bangsa lain menjadi iri. Sesungguhnya dunia besar karena Indonesia, cara Indonesia membantu terbangunnya kebesaran dunia tidak dengan menyombongkan dirinya melainkan dengan merendahkan diri secara luar biasa”.

Adanya obrolan buku ini, semoga menjadikan cara awal untuk meningkatkan minat bakat mahasiswa di dunia literasi khususnya mahasiswa Fakultas Syariah dan tetap menjaga eksistensi buku sehingga tidak punah. Jadilah cahaya, jadilah sinar dalam gelap, dan jadilah inspirasi yang membuat perubahan besar. Salam Literasi! (Vivi Alfiyani/Ed/AFZ)


Bagikan

Leave A Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *