Parahyangan: Kopi dan Kemalangan Sejarah

Parahyangan: Kopi dan Kemalangan Sejarah
Bagikan

Oleh Oscar Maulana

Mahasiswa Prodi Hukum Ekonomi Syariah

Judul buku: Babad Kopi Parahyangan
Penulis: Evi Sri Rezeki
Penerbi: Marjin Kiri
Cetakan: Pertama, Februari 2020
Tebal : x + 348 halaman
ISBN: 978-979-1260-96-1

Parahyangan: Kopi dan Kemalangan Sejarah

FASYA- Di setiap obrolan berlangsung, kita tak lupa memesan kopi. Kopi kian memberikan warna di sela-sela penatnya rutinitas hidup. Rasa lelah setelah seharian suntuk beraktifitas kiranya terasa terobati ketika kita meminum kopi. Mafhum, di dunia yang serba modern, kopi kian menempati posisi puncak sebagai minuman wajib disetiap perhelatan komunal maupun ruang-ruang privat keluarga selain teh.

Hal ini bisa kita tengok, kedai-kedai kopi kian menjamur disetiap sudut kota sampai pelosok kampung. Menu-menu kopi berseliweran dengan beragam mode dan tulisan yang menggairahkan, bertengger gagah di setiap dinding kafe maupun kedai. Gambar-gambar berlukiskan kopi pun kian mengejawantah kedigdayaan kopi.

Narasi tentang kopi jamak diulas lewat karya sastra. Puisi-puisi bertemakan kopi tercecer dilembar-lembar kertas. Kita bisa tengok gubahan puisi Usman Arrumy (2016), “Kopiku lebih hitam dari nasib buruk/ pecinta yang gagal move on/ Lebih getir dari kesepian jomblo/ yang tak punya alamat/ untuk memasrahkan cintanya. Usman menarasikan kopi sebagai perlambang kegagalan manusia yang dibuat gundah tentang melupakan kekasih, tak pelak kopi menjalma menjadi bait-bait beraksarakan asmara.

Perangai kopi pun terus ada di bait-bait puisi lainnya. Salah duanya puisi gubahan Joko Pinurbo, (2014). Kita cerap, “… ‘Kurang atau lebih,/ Setiap rezeki perlu dirayakan dengan secangkir kopi’/ Mungkin karena itu empat cangkir kopi sehari/ Bisa menjauhkan kepala dari bunuh diri”. Kopi bernadakan semangat hidup dan lirih. Bagi Jokpin, sapaan Joko Pinurbo, obat bagi kepenatan hidup ada pada sebiji kopi.

Buku-buku bertema kopi pun terus terbit dan tercetak. Kita juga bisa menjumpai kopi lewat karya sastra berbentuk prosa dan cerpen. Kita bisa tengok karya Dee / Dewi Lestari bertemakan Filosofi kopi (2006). Buku ini sempat difilmkan dengan judul yang sama. Dan bergelimang laba. Kopi menjelma menjadi tema yang moncer di setiap karya sastra.

Kopi musti menjadi primadona sejak dulu. Cerita-cerita kopi kian tersirat nan tersurat, periwayatan nya pun berisikan sejarah dan nilai-nilai kehidupan. Mewartakan kopi sama halnya bercerita kemanusiaan. Perjuangan manusia yang memperjuangkan keterbebasan dari belenggu kolonialisme. Keringkihan disetiap pundak manusia-manusia tertindas atas ketamakan dan keserakahan. Pada zaman kolonialisme, di setiap tegukan kopi mengandung kegetiran hidup manusia dan kenekatan berujung nyawa.

Sejarah perihal perkopian di Indonesia, bisa kita tengok dalam karya sastra berbentuk novel bertajuk Babad Kopi Parahyangan, garapan Evi Sri Rejeki. Ketekunan Evi menjejaki prosa ke “sejarah” an patut mendapat apresiasi. Naskah tetralogi pertama ini digarap dengan keseriusan dan ketekunan, hal ini terbukti ketika dalam penggarapannya memerlukan waktu cukup lama yakni 6 (enam) tahun.

 

Dalam novel ini, perjalanan kopi begitu memberikan aroma kepekatan dan kemalangan sejarah. Novel berlatar abad 19, mengeruak masa kelam kopi di Parahiyangan. Bentangan sejarah yang mewartakan kedigdayaan kopi di belahan dunia memang sudah sejak dulu menampakan pesona dan keglamourannya.

Tak terkecuali tokoh Karim seorang pemuda asal Batang Arau (Minang), ketertarikan akan kopi kian menggelora manakala Si Pelaut berseloroh, “Di tanah Parahiyangan aku bisa minum segelas kopi yang rasanya puluhan kali lebih nikmat dari ini” (Halaman 11). Kita tahu, keelokan kopi yang di cerita kan Si Pelaut membuat hati Karim bergeming dan terkesima. Negeri mana yang menyimpan legenda menawan tersebut?, tandas dalam hatinya.

Cita-cita musti kita gapai dengan beribu tantangan, kenekatan dan keteguhan hati. Sosok Karim dengan darah Minang nya lantas merantau menjejaki tataran tanah pasundan yang terkenal akankeluhuran kopi dan mendapat julukan sebagai “ sarang emas hitam”.

Manusia dalam Bayang-bayang Kolonial

Kopi, mengantarkan Karim pada persoalan kemanusiaan. Cita-cita luhur, menjadi saudagar dagang kopi di pulau Jawa pun malah mengilhami manusia bertahan akan kegetiran hidup. Manusia-manusia terjajah, kemalangan nasib yang diterima warga Parahiyangan membuka mata hati Karim.

Setelah menapakan kaki di bumi Parahiyangan, Karim begiu tertegun dan kecewa. Tertegun terhadap kedigdayaan tanahnya yang subur dan pantas Si Pelaut berseloroh seperti diatas. Dan kekecewaan timbul, manakala Karim melihat begitu mengenaskannya masyarakat di Parahiyangan ini.

Tanah yang subur, suasana begitu menyejukan. Berlainan dengan orang-orangnya, yang memikul beban berat. Di pundaknya ada semacam kegetiran yang dipikul masyarakat Parahiyangan. Perasaan mendidih dalam dada Karim terus mengusik pikiranya, setelah melihat tiga orang pekerja yang di musnahkan (bunuh). Karena diduga merencanakan kabur dari kamp perkebunan, tiga orang ini di tendang kepalanya hingga sobek, dan merembes darah  segar itu (halaman 150).

Ratapan nasib kaum bumiputra yang terajah itu menyrntuh mata hati Karim dan sosok Raden Arya Kusumah Jaya. Raden Arya merupakan keluarga ningrat dan menguasai perkebunan kopi dimana Karim bekerja. Raden Arya pun dilema melihat rakyatnya selalu ditindas dan di gilas habis hak-hak kemanusiaannya.

Tatkala Raden Arya dikasih kado dari teman penanya dari Belanda, Philip L. Vitalis, berupa buku itu berjudul Max Havelaar gubahan Douwes Dekker. Buku ampuh yang menyingkap tabir kebusukan kolonial di bumi Nusantara yang selama ini seolah-olah ditutup-tutupi pihak kolonial. Dan bagi Raden Arya ada perasaan marah, teraniaya dan ia sungguh merasa diludahi tatkala membaca buku itu.

Dan pada saat yang berbeda, datang pula surat dari sahabat penanya itu. Secarik kertas yang membuat Raden Arya tertegun heran. Terbesit pula perasaan khawatir dan pengharapan. Dalam surat itu berisi, sebentar lagi parlemen Belanda akan mengesahkan Undang-undang Agraria dan Undang-undang Gula, dan terbukanya zaman baru.

Pengharapan itu terbesit dalam dadanya, kekerasan yang akan menimpa warganya akan terentaskan. Dan kekehawatiran itu terus menghantuinya, apakah Undang-undang itu merupakan pintu kebebasan ataukah pintu menuju perangkap lain?. Dan jawaban itu terbukti atas kekhawatirannya. Pihak kolonial mendirikan pabrik gula (PG) secara masif di tanah Jawa, khususnya Jawa Tengah dan Timur. Bukannya mengentaskan penjajahan diatas tanah Nusantara, dan berlainan dengan pengharapan itu. Masyarakat pribumi dikuras habis tenaga, pikiran dan sumber daya alamnya.

Rentetan “sejarah” kelam yang memberikan petikan wawasan dan penggemblengan moral bangsa di zaman modern. Evi menjajaki persoalan dan bentangan sejarah kelam proses terjadinya bangsa Indonesia. Beban yang dipikul orang pribumi kala itu. Buku yang pantas dibaca, dan menjadi perbendaharaan perihal sejarah tanam paksa dan perkopian di Nusantara.

*Resensi ini telah dimuat di Lampung News, Edisi Jumat, 06 November 2020 (dw)


Bagikan

Leave A Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *