Peduli Perempuan, HMPS HKI Adakan Seminar Online Membahas Tuntas Masalah KDRT

Peduli Perempuan, HMPS HKI Adakan Seminar Online Membahas Tuntas Masalah KDRT
Bagikan

FASYA- Kamis (30/04/2020), Himpunan Mahasiswa Program Studi (HMPS) Hukum Keluarga Islam (HKI) Fakultas Syariah IAIN Surakarta tak hentinya memfasilitasi untuk membagikan karya-karya dengan Seminar Online melalui Group WhatsApp bertemakan “Kebijakan Publik dan Meningkatnya KDRT Terhadap Perempuan di Masa Pandemi”

Menghadirkan Ibu Hasna Azmi Fadhilah, S.STP, M.Res, dosen IPDN sebagai pemateri. Tidak lupa Bapak Muh. Zumar Aminuddin, S.Ag., M.H., selaku pembina HMPS HKI juga turut mengikuti seminar ini.

Acara ini diikuti oleh mahasiswa Fakultas Syariah sebanyak 210 orang. Seminar ini juga diliput 1 orang dari LPM Pabelan Online yang merupakan peserta juga. Dimulai pukul 10.00 WIB dipimpin oleh moderator Melda Adheka Ya Shinta (Koor devisi Keilmuan HMPS HKI).

Perlunya belajar tentang kehidupan, kebutuhan primer yang semakin meningkat menjadi masalah serius bagi kalangan berkeluarga. Kurangnya esensial lahiriyah seperti pemenuhan ekonomi menjadi hal yang sering diperdebatkan dalam rumah tangga.

Apalagi di zaman yang semakin maju saat ini. Kematangan batin, pemahaman karakter, dan pekerjaan tetap sangat penting bagi calon laki-laki dan perempuan sebelum menikah. Diskusi kali ini membahas mengapa bisa terjadi KDRT.

Ibu Hasna menjelaskan,”beberapa faktor terjadinya KDRT, pertama riwayat keluarga jika pelaku pernah menjadi korban KDRT, kedua kondisi keuangan, ketiga kondisi kesehatan keempat penyalahgunaan obat/alkohol dan kelima pengaruh media,”terangnya.

Korban KDRT mayoritas adalah perempuan dan mereka memilih diam karena bergantung pada kebutuhan finansial hingga kebutuhan pokok pada pelaku.

Ibu hasna juga menjelaskan,“pentingnya pasangan sebelum menikah mempersiapkan secara matang baik segi psikis, mental, hingga finansial. Saling memahami juga perlu, karena karakter laki-laki berbeda dengan perempuan, jika laki-laki mempunyai masalah cenderung diam dan mencari solusi maka perempuan juga harus memberi ruang,”terangnya.

Diskusi sangat menarik karena materi yang dipaparkan kebanyakan masalah real yang terjadi dalam kehidupan nyata. Pertanyaan serta argumentasi dari peserta menjadi bahan diskusi lebih hidup.

Bu Hasna juga berpesan,”untuk kaum perempuan agar punya penghasilan sendiri agar jika terjadi hal-hal yang tidak diinginkan bisa mandiri membiayai hidup,”ujarnya.

Kegiatan diakhiri dengan pemberian E-Serfifikat kepada peserta. Semoga dengan adanya diskusi ini menjadi pengetahuan bagi semua dalam masalah rumah tangga.

Semua masalah ada jalan keluar, jika perbedaan menjadi hal yang sering diperdebatkan maka cari solusi bukan mengakhiri hubungan, apalagi bertindak kekerasan.

Sabar menjadi kunci utama, jika kebanyakan orang mengatakan sabar ada batasnya maka dia belum sepenuhnya melakukan. (Rosyidah Dika-HMPS HKI/ Ed. dw)

 


Bagikan

Leave A Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *