Sarung Pemberian Bapak

Sarung Pemberian Bapak
Bagikan

Cerpen Oleh Indarka Putra Pratama

 

FASYA- Aku tersentak oleh teriakan dari kamar paling pojok. Suara lantang menyumpal gendang telinga sampai tak bisa menangkap suara lain, selain omelan Bu Kos itu. Merinding mendengarnya. Bahkan ketika pintu kamar kututup rapat, jendela pun telah kukunci, masih terdengar jelas murka perempuan itu. Pastilah ada yang terusir hari ini juga.

Omelan Bu Kos bukan saja membuat bising. Melainkan juga mengingatkanku kalau besok tanggal 28. Ya, aku harus membayar indekos. Jika uangku tetap tak cukup, kupastikan besok Bu Kos akan mengetuk pintu kamar ini sambil mengencangkan urat-urat lehernya.

Memikirkan hal itu tak ubahnya membuatku limbung. Apa yang mesti kuperbuat untuk mengamankan nasibku, setidaknya satu bulan ke depan. Lama tercenung tak kunjung menghasilkan satu pun ide. Aku menggaruk-garuk kepala, meski sebenarnya tidak gatal, tanda kegelisahan. Aku pun menghentikan pencarian ide itu sejenak.

Aku menuju kamar mandi dan segera mengulir keran. Air mengalir sangat lambat. Oya, hari ini sudah mepet waktu pembayaran indekos. Kalau sudah dibayar, air keran akan kembali deras. Ini semacam peringatan pertama. Di bawah kemericik air, aku berwudu sekenanya. Lantas menutup dengan do’a sekaligus permohonan maaf kepada Tuhan.

“Sudah pantas ya?” Tanyaku kepada cermin sambil membenahi sarung yang tengah kukenakan. Aku pun siap untuk salat.

Aku menyelesaikannya hingga salam terakhir. Tetapi, meskipun sudah salat, hatiku masih saja kalut tak keruan. Aku masih terngiang-ngiang kemarahan Bu Kos tadi. Hal itu menjadikanku berpikir, bagaimana nasibku esok hari?

Kemudian kulucuti semua piranti ibadah, lalu menatanya ke tempat semula, kecuali sarung. Aku memakai sarung ini bukan hanya saat salat saja. Keluar menuju lapak koran, lapak buku, atau ke warung, aku kerap memakainya. Kehangatan yang diberikan sarung ini malah mengajakku ke masa lalu. Aku tak kuasa menolaknya. Memori masa kecilku dulu masih jelas di hati dan ingatan. Tanpa kusadari aku kembali tenggelam di sana.

Kala itu aku kelas VI SD. Kenaikkan dari kelas V ke kelas VI dirayakan dengan disunatkannya aku saat libur sekolah. Seperti yang sudah-sudah, biasanya ketika hendak sunat pastilah teman-temanku meminta satu permintaan kepada orang tuanya. Permintaan akan dipenuhi sebagai imbalan atas keberanian untuk sunat. Selayaknya mereka, aku pun turut melakukannya. Aku menyampaikan sebuah permintaan kepada Bapak.

“Setelah sunat belikan Ronggo sepeda ya, Pak,” pintaku kepada Bapak suatu malam, sebelum esoknya aku disunatkan.

“Sepeda itu mahal. Bapak belikan yang lain saja.”

“Belikan apa?”

“Rahasia, pokoknya kejutan.”

Ah, aku pun sedikit kecewa. Bapak tidak menerangkan barang apa yang akan diberikannya menggantikan permintaanku. Bapak menganggap sepeda adalah barang mahal. Dari jawabannya, aku menduga bahwa hadiah itu tak akan jauh lebih bagus dari sepeda. Sesuatu yang mungkin lebih murah, atau bahkan sangat murah. Dan dugaanku ternyata benar. Setelah selesai sunat, sesampainya di rumah, Bapak menyodoriku sebuah barang yang terbungkus kertas koran.

“Hadiahnya ini, Pak?” tanyaku sedikit ragu.

“Iya. Itu akan berguna sampai kapan pun.”

“Kecil sekali. Ini tidak seimbang dengan sepeda, Pak,” aku menerimanya dengan mata berkaca-kaca.

Dengan perasaan yang campur-aduk, aku mengamati benda itu. Aku menaruh curiga dengan isinya. Wujud luarnya saja nampak kecil dengan baluran kertas koran bekas. Ketika dipegang teramat ringan. Rasa curiga itu segera kuakhiri dengan merobek pembungkusnya dan membedahnya perlahan.

“Sarung, Pak?” Aku melongo ke arah Bapak sementara tanganku masih memegangnya.

“Iya, sarung,” jawab Bapak santai. Seperti tak merasa bersalah karena hanya membelikan sarung untuk anak semata wayangnya.

“Kok sarung sih, Pak? Buat apa sarung?”

“Kau harus pakai sarung sampai jahitanmu kering.”

“Ronggo kan sudah punya sarung. Kenapa diberi sarung lagi?”

“Buat gonta-ganti, biar tidak itu-itu saja.”

“Kalau sudah sembuh, sarung ini bakal tak terpakai, Pak.”

“Siapa bilang?” Bapak membantah perkataanku.

Bapak menyampaikan banyak hal tentang kegunaan sarung. Amanatnya panjang layaknya petuah keagamaan. Katanya sarung bisa menemani tidur supaya terjaga dari dinginnya malam, bisa untuk salat, atau juga bisa dipakai pengganti rok untuk anak perempuan.

“Kau tahu kan? bahkan sarung bisa dipakai oleh maling buat menutupi wajah mereka. Seperti ninja-ninja. Hahaha.” Bapak tertawa, ia mencoba berseloroh di depan rautku yang kian cemberut.

“Masih banyak lagi kegunaannya. Jadi jangan sekali-kali menyepelekan sarung. Bapak sengaja memilih ukuran yang besar, agar bisa kaupakai sampai dewasa nanti,” tandasnya kemudian.

Aku terdiam, tak mengucap apa pun. Hati terasa geram dan aku pun kecewa karenanya. Nasibku tak seperti anak-anak lainnya, selalu terkabul apa yang mereka pinta. Kupikir, semua permintaan anak yang sunat pasti terkabul. Ternyata tidak begitu. Tidak ada keharusan mengabulkannya, semua bergantung pada orang tua masing-masing. “Tahu gini aku tidak minta sunat, dasar bodoh!” Cela diri sendiri dalam hati.

“Sudah nurut saja sama Bapakmu. Nanti kalau ada rezeki pasti dibelikan.” Usaha Ibu mencoba membuatku berbesar hati. Alih-alih surut kekecewaanku, mendengarnya malah membuat hatiku hancur berkeping-keping. Ingin sekali rasanya aku menangis.

Hari ke pekan, pekan ke bulan, bulan ke tahun. Tidak ada sepeda untukku. Mungkin Bapak dan Ibu mengira aku telah lupa, sehingga mereka tenang-tenang saja. Pada akhirnya, aku pun benar-benar mengubur keinginan itu. Sejak hari itu, sampai hari ini.

***

Hari telah pagi, tibalah di tanggal 28. Tidak ada upaya selain menghadapi kenyataan yang akan terjadi sore nanti. Tak mungkin aku meminta uang lagi kepada Bapak atau Ibu di kampung. Uang jatah membayar indekos yang sudah mereka kirim seminggu lalu, sudah lebih dulu habis untuk membeli kebutuhanku lainnya.

Pintu dan jendela kamar indekos kututup rapat. Sinar matahari hanya bisa menyelinap melalui ventilasi udara. Lampu memang sengaja kumatikan agar pikiranku tenang menyiapkan dalih yang akan kulayangkan kepada Bu Kos nanti. Lapar di pagi hari sudah tidak begitu penting, rasanya ada yang lebih genting daripada menyantap sarapan. Di antara temaram cahaya, aku malah terlelap lagi.

Tiba-tiba ketukan berkali-kali terdengar dari balik pintu. Aku terperanjak dari lelapnya tidur sejak pagi hingga sore. Pintu masih terketuk, berirama tagihan indekos bulan ini. “Sialan, Bu Kos sudah di luar.” Aku memberitahu diri sendiri. Meski mata belum terbuka lebar, aku harus segera berdiri, membuka pintu, dan menyambut Bu Kos dengan penuh keramahan.

“Eh, Bu Kos. Sudah lama, Bu?” tanyaku basa-basi. Sebuah usaha untuk meraih hatinya.

“Hari ini bayar kos!” Tidak ada jawaban untuk pertanyaanku tadi. Bu Kos langsung melontarkan maksud kedatangannya.

“Mohon maaf, Bu. Saya belum punya uang. Saya minta waktu seminggu lagi,” aku mencoba meluluhkan hatinya dengan intonasi yang iba.

“Tidak bisa. Tidak ada keringanan di sini!”

“Seminggu saja. Saya mohon, Bu,” aku sedikit merengek.

Denting kemarahan Bu Kos tiba-tiba melesat ke telingga hingga kerongkonganku. Celaan demi celaan tersiar dari mulutnya. Bahkan aku tak bisa menangkap jelas kalimatnya, sehingga tak bisa kutuliskan dalam cerita ini. Yang jelas, marah jenis ini adalah marah terdahsyat yang pernah kudengar.

“Saya beri waktu satu jam untuk berkemas!”

Aku tertunduk di hadapannya. Aku tak berhasil mengucap satu pun dalih. Sehingga tak ada alasan lagi untuk bertahan di sini, dan segera kulakukan perintah itu. Satu jam akan terasa lama untuk situasi mendebarkan ini.

Seluruh pakaian, buku, sepatu, dan beberapa barang lainnya, telah terkemas di dalam sarung. Aku masih beritikad baik pamit kepada Bu Kos. Mengucap maaf sekaligus terima kasih, atas fasilitas tempat indekos yang kudiami selama enam semester lamanya. Dengan langkah gontai aku meninggalkan tempat indekos menuju terminal. Sisa uang kupastikan cukup untuk sekadar membayar bus. Dari kejahuan mungkin aku terlihat seperti pemulung dengan sarung berisi barang-barang menempel di atas punggung. Sarung yang kata Bapak serbaguna, melebihi sebuah sepeda.

Dua jam perjalanan kutempuh dengan bus yang kutumpangi. Hingga akhirnya aku sampai di rumah sekira pukul delapan malam. Kedatanganku disambut heran oleh Bapak. Itu dapat kutangkap dari matanya yang menyorotiku dari ujung kaki hingga ujung kepala. Kami saling memandang tanpa ada perbincangan. Barulah Bapak berbicara setelah aku menurunkan sarung yang berada di balik punggung.

“Apa itu?” tanya Bapak sambil melongo ke arah sarung.

“Benar kata Bapak dulu. Sarung ini memang sangat berguna.”

“Apa maksudmu?” tanya Bapak lagi. “Kau ini kenapa?” tambahnya kemudian.

“Sarung ini membantu kepulangan Ronggo, Pak.” Aku menjelaskan sebab pengusiran itu terjadi. Sampai pada upaya pembuktianku, kalau sarung pemberian Bapak memang teramat-sangat berguna.

“Dasar bodoh!” Bapak membentak. “Salahmu sendiri tak bijak memakai uang itu. Kaupikir Bapak bangga dengan pembuktianmu tentang sarung? Kau ini sama saja seperti maling. Sama-sama tidak bertanggungjawab!”

Bapak meradang sejadi-jadinya. Sempurna. Hari ini aku kena marah dua kali. Oleh Bu Kos, juga oleh Bapakku sendiri. “Sial, sial!” Gumamku yang mematung dan terbisu.

 

*Cerpen ini telah dimuat di Solopos, Ahad 11 Oktober 2020. (dw)


Bagikan

Leave A Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *