Sejarah Kopi di Arus Kolonialisme

Sejarah Kopi di Arus Kolonialisme
Bagikan

Oleh: Oscar Maulana*

Mahasiswa Prodi Hukum Ekonomi Syariah (HES)

 

Judul buku       : Babad Kopi Parahyangan

Penulis              : Evi Sri Rezeki

Penerbit           : Marjin Kiri

Cetakan           : Pertama, Februari 2020

Tebal               : x + 348 halaman

ISBN                : 978-979-1260-96-1

 

Pada abad ke-19, kolonialisme-imprealisme mengakar kuat di Hindia Belanda. Sebuah negeri yang kelak menjadi Indonesia. Pihak penjajah mengeksploitasi sumber daya alam dengan begitu gencar. Hasil bumi dikeruk habis dengan tanpa memperhatikan aspek-aspek kemanusaiaan.

Pelbagai kebijakan terlontarkan dari pihak kolonial yang sampai merugikan kaum pribumi. Kemiskinan, kesengsaraan, kegetiran hidup dan kenelangsaan begitu dekat dengan kaum pribumi. Penerapan tanam paksa (cultuur stelsel) menjadi bukti kekejaman bangsa Eropa yang pernah menjajah bumi Nusantara.

Tujuan dari tanam paksa adalah mengekspoitasi hasil bumi dengan memanfaatkan beberapa komoditas. Seperti palawija, pala, cengkeh, lada, dan kopi. Bahkan, kopi menjadi primadona bagi pangsa pasar Eropa kala itu. Peristiwa perkopian di Indonesia bisa kita tengok lewat novel gubahan Evi Sri Rezeki yang berjudul Babad Kopi Parahyangan ini. Evi mengajak kita menjejaki peradaban kopi di Parahyangan pada masa-masa kolonial.

Novel ini menjadi tetralogi yang pertama bagi Evi. Novel yang ditulis dengan keseriusan, ketelatenan, dan juga riset yang mendalam . Kita bisa tengok pada bagian awal buku bahwa novel ini yang digarap hampir 6 (enam) tahun lamanya.

Novel ini menjadi novel “sejarah” dengan fragmen-fragmen atmosfer kolonial yang begitu kental. Pembaca diajak menyusuri perjalanan tanaman kopi di Nusantara pada abad ke XIX. Perjalanan-petualangan seorang penikmat kopi bernama Karim. Karim sangat tergiur akan kedigdayaan kopi di Parahyangan. Karim pun sampai memiliki cita-cita ingin menjadi bandar dagang kopi ternama di tanah Jawa.

Ketergiuran itu bisa kita baca lewat dialog antara Uni Fatimah, Karim, dan Si Pelaut. Manakala Si Pelaut berseloroh mantab, “Di tanah Parahyangan” ucapnya, “aku bisa minum segelas kopi yang rasanya puluhan kali lebih nikmat dari ini!” (Hlm. 11). Percakapan itu menjadi penentu ujung tombak cita-cita Karim. Pemuda asal tanah Minang ini teguh memegang prinsip dan nekat menjelajahi kopi di tataran Parahyangan.

Ketergiuran Karim bukan tanpa alasan, kegemilauan kopi begitu tersohor di bumi Eropa. Yang konon orang bisa menukarkan kopi dengan emas. Hal tersebut tersirat ketika terjadi percakapan antara Karim dan Ote-seorang budak kapal dari Nias-secara lirih dan penuh keterpasrahan, “Kelak sajikan awak secangkir kopi yang tersohor itu, buat awak paham mengapa dunia menyertakannya dengan emas” (hlm. 79).

Keadiluhungan kopi menjelma menjadi sisi-sisi ketimpangan sosial-ekonomi dan keterpurukan nasib bagi pribumi kala karim menginjakan kaki di tataran Parahyangan. Sistem tanam paksa tanah Parahyangan menggurat menjadi kenyataan pahit.

Keterpurukan, keterjajahan dan pengambilan hak-hak kemudian membuat manusia bumiputra sadar akan kebebasan, berdaulat, dan melakukan pemberontakan terhadap kompeni. Hal ini terekam ketika Karim berupaya untuk melakukan perlawanan dengan tidak menyerahkan bibit kopi pada pemerintah kolonial. Namun malah menjual bibit kopi secara ilegal pada pengusaha Tionghoa, bernama Babah Liong (Hlm. 295).

Perlawanan demi perlawanan terus berkecamuk bahkan dari pihak internal pemerintahan di tanah jajahan sendiri. Tokoh Raden Arya Kusuma Jaya, sebagai administratur perkebunan kopi, pun akhirnya sadar dan mengutuk keras sistem tanam paksa. Raden Arya Kusuma Jaya yang bijaksana dan pemurah lantas kemudian mengobarkan keberanian di jiwa Karim supaya terus melakukan perubahan radikal di perkebunan. Terlebih lagi pada aturan-aturan yang direalisasi oleh kompeni.

Keberanian Karim membuncah dalam mengorganisir pemberontakan ketika mendapat kabar dari Raden Arya bahwa akan adanya zaman baru di bumi Nusantara. Perubahan secara radikal dalam pengelolaan sumber daya alam, keterangan ini didapat dari sahabat Raden Arya yaitu Philip Vitalis, “sebentar lagi Undang-undang Agraria dan Undang-undang Gula akan diberlakukan di Jawa. Kebijakan tersebut akan melindungi para petani atas tanahnya” (Hlm. 227).

Itulah secelumit cerita dari naskah novel yang dipaparkan Evi. Keadiluhungan kopi tidak serta merta lewat dari arus kekejaman pihak kolonial, menggerus habis nilai-nilai kemanusiaan. Kopi tak hinyanya hanya sebatas pengeroposan mental bagi kaum pribumi. Kehilangan lahan. Kerja dengan upah minimum harus ditanggung kaum pribumi. Novel yang patut dibaca bagi penggila kopi di Indonesia.

 

*Resensi buku ini telah dimuat di koran tribun Jateng edisi ahad 9 Agustus 2020 (dw)


Bagikan

Leave A Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *