Serba-serbi Kehidupan Pesantren

Wanita dan Pendidikan
Bagikan

Oleh: Deviyana Khoirotul Ismiyah

(Santri PESMA Munawir Sjadzali Fakultas Syariah IAIN Surakarta, Mahasiswi Hukum Keluarga Islam)

Pondok pesantren merupakan pusat pembelajaran dan keilmuan di negara Indonesia. Hal ini dapat kita cermati dalam buku Zamakhsyari Dhofier yang berjudul Tradisi Pesantren: Studi Pandangan Hidup Kiai dan Visinya Mengenai Masa Depan Indonesia (2015).

Anthony Johns dalam artikelnya “From Coastal Settlements to [the establishment of] Islamic Schools and City” menegaskan bahwa pesantren menjadi motor perkembangan Islam di Sumatera, Malaka, Jawa, dan peradaban Islam Melayu.

Genealogi keilmuan dari pesantren memicu terbangunnya kesultanan-kesultanan Islam di Nusantara sejak tahun 1200-an. Soebardi dan Johns menegaskan bahwa pesantren pada periode antara tahun 1200 dan 1600 adalah ujung tombak pembangunan peradaban Melayu Nusantara.

Pada abad ke- 20, tradisi pesantren telah melahirkan budayawan agung seperti Wahid Hasyim. Beliau merupakan tokoh pembangunan peradaban Indonesia modern yang memiliki kualitas mumpuni.

Tingkat keilmuan dan kealimannya barangkali sama seperti pendiri peradaban Melayu Islam Nusantara antara abad ke-13 dan ke-17, seperti Hamzah Fansuri, Syamsuddin as- Sumaterani, Abdurrauf Singkel, dan Nuruddin Arraniri.

Zamakhsyari Dhofier menjelaskan bahwa sebelum tahun 1960-an, pusat-pusat pendidikan pesantren di Indonesia lebih dikenal dengan nama pondok. Pondok pesantren sendiri terdiri atas dua kata, yaitu pondok dan pesantren.

Pondok berasal dari bahasa Arab, funduq, yang artinya asrama atau hotel. Pesantren berasal dari bahasa Tamil, yakni dari kata santri yang diimbuhi awalan pe- dan akhiran -an yang artinya tempat tinggal para santri.

Prof. Johns berpendapat bahwa istilah santri berasal dari bahasa Tamil yang artinya guru mengaji. C. C. Berg juga berpendapat bahwa istilah tersebut berasal dari bahasa India yakni kata shastri yang artinya orang yang tahu buku-buku suci Agama Hindu.

Kata shastri sendiri berasal dari kata shastra yang artinya buku-buku suci, buku-buku agama, atau ilmu pengetahuan. Dari asal-usul kata santri ini, banyak sarjana yang menyimpulkan bahwa pada dasarnya pesantren merupakan lembaga keagamaan bangsa Indonesia.

Namun, pada masa lalu orang-orang masih menganut agama Hindu-Budha yang bernama “mandala”. Namun, di masa itu pula banyak yang mulai masuk Islam atas peran dakwah para kiai.

Terlepas dari asal-usul katanya, pondok pesantren merupakan lembaga pendidikan Islam yang telah mewarnai kehidupan masyarakat Indonesia, serta membentuk jiwa-jiwa intelektual yang religius dan beretika. Bahkan, ketika Indonesia memasuki dunia generasi 4.0, pesantren menjadi penyangga yang sangat kokoh dan penting dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Ada beberapa buku yang membahas tentang tujuan pendidikan. Salah satunya adalah buku Zamakhsyari Dhofier yang berjudul Tradisi Pesantren: Studi Pandangan Hidup Kiai dan Visinya Mengenai Masa Depan Indonesia (2015).

Dalam buku tersebut disebutkan bahwa tujuan pendidikan tidak semata-mata untuk memperkaya pikiran murid dengan penjelasan, tetapi juga untuk meningkatkan moral, melatih dan memupuk semangat, menghargai nilai-nilai spiritual dan kemanusiaan, mengajarkan sikap dan tingkah laku jujur dan bermoral, serta menanamkan kepada para murid bahwa etika agama di atas etika-etika yang lain.

Tujuan pendidikan pesantren bukan untuk mengejar kepentingan kekuasaan, uang, dan keagungan duniawi, melainkan untuk menanamkan kepada mereka bahwa belajar adalah semata-mata kewajiban dan pengabdian kepada Tuhan. Di antara cita-cita pendidikan pesantren adalah untuk melatih diri sendiri dan membina diri agar tidak menggantungkan sesuatu kepada orang lain, kecuali kepada Tuhan.

Di Indonesia, biasanya orang membedakan pesantren menjadi 3 kelompok, yakni pesantren kecil yang biasanya memiliki jumlah santri di bawah 1000, pesantren menengah yang biasanya memiliki santri 1000 sampai 2000, dan pesantren besar yang memiliki santri lebih dari 2000. Terlepas dari pembagian tersebut, 5 elemen dalam pesantren , serta cita dan tujuan pesantren adalah sama.

Di dalam pondok pesantren terdapat lima eleman penting yang harus ada. Lima elemen tersebut adalah pondok, kiai, santri, masjid, pengajaran kitab Islam klasik (kitab kuning).

Pondok atau asrama merupakan bangunan yang diyakini penuh dengan barokah. Bangunan itu dibangun semata-mata untuk menunjang kegiatan belajar-mengajar di pesantren. Di sinilah tempat keseharian para santri, terlebih bagi santri pendatang (di luar daerah pondok).

Biasanya rumah kiai juga berada di lingkungan pondok. Pondok atau asrama putra dan putri jelas terpisah. Keadaan kamar-kamar di pondok sangat sederhana. Pondok tidak menyediakan kamar perorangan untuk santri, melainkan satu kamar ditempati oleh 15 sampai 20 orang sesuai kapasitas dan kebijakan pondok yang telah ditetapkan.

Biasanya kamar ini hanya digunakan untuk menyimpan baju dan buku, untuk istirahat (tidur) hanya sebagian santri yang memilih di dalam kamar. Sebagian besar santri memilih tidur di serambi masjid atau pun di aula.

Di samping menjadi elemen penting dari tradisi pesantren, bangunan pondok juga merupakan faktor utama perkembangan pesantren. Meski terkesan penuh sesak, sempit, dan sederhana, tempat ini diyakini memiliki nilai keberkahan yang sangat besar.

Selain itu, bangunan pondok dapat lebih mempererat hubungan para santri, menumbuhkan ikatan kekeluargaan yang sangat erat, mampu menciptakan kenangan yang indah dalam memori setiap santri, dan menjadikannya tempat yang selalu dirindukan.

Kiai merupakan hal terpenting yang harus ada dalam sebuah pondok pesantren. Seringkali kiai juga merupakan pembabat pertama atau pendirinya. Kiai merupakan guru besar dalam sebuah pesantren.

Beliau merupakan orang yang terpilih, memiliki tingkat kealiman yang luar biasa, serta sangat dekat dengan Allah Swt. sehingga rida beliau adalah rida Allah, dan murka beliau adalah murka Allah.

Dalam hal ini, ada sebuah adagium yang menyatakan bahwa pada hakikatnya “seorang anak itu mempunyai dua orang tua yang harus dimuliakan, yaitu orang tua rohani dan jasmani.

Orang tua rohani ialah beliau yang membimbing rohani kita untuk mengenal Allah guna menjadi seorang hamba yang bertakwa, yaitu para kiai dan guru-guru kita. Orang tua jasmani ialah beliau yang telah mengasuh, merawat, dan memenuhi kebutuhan jasmani kita.

Santri merupakan sebutan bagi para ghurabaa atau pengembara ilmu di pesantren. Santri dapat digolongkan menjadi dua, yaitu santri mukim dan santri kalong. Santri mukim adalah santri yang tinggal dan menetap dalam lingkungan pondok pesantren, baik itu berasal dari daerah yang jauh ataupun yang dekat dengan lingkungan pesantren.

Adapun santri kalong merupakan santri yang datang ke pesantren hanya untuk mengaji dan mengikuti kegiatan di pesantren. Setelah itu, mereka pulang ke rumah masing-masing. Biasanya berasal dari daerah yang dekat dengan pesantren dan sekitarnya.

Tulisan dalam buku Mudhofir Abdullah yang berjudul Konvergensi Santri Abangan : Melihat Islam dari Ngruki (2013) menyatakan bahwa karakteristik santri adalah kepatuhannya pada prinsip-prinsip Syari’ah. Adapun konsep tatanan santri didasarkan pada dua prinsip yang tampak kontradiktif, yaitu ummat (seseorang yang sama di hadapan Allah) dan sanad (transmisi pengetahuan yang terorganisasi secara hierarkis).

Selain santri, masjid juga menjadi tempat penting dalam menyebarkan tradisi pesantren. Masjid menjadi tempat yang multifungsi selain untuk melaksanakan ibadah. Di antaranya adalah menjadi tempat musyawarah, tempat belajar dan mengajar (mengaji), selawatan, pengajian, itikaf, dan lain sebagainya.

Tradisi para pendiri pondok sebelum mendirikan bangunan pondok terlebih dahulu membangun masjid atau musala. Tulisan dalam buku Toto Suharto dan Suparmin yang berjudul Pendidikan Kritis dalam Perspektif Islam Telaah Epistemologi (2013) menyebutkan bahwa masjid dalam lintasan sejarah Islam merupakan pusat ilmu pengetahuan dan kebudayaan.

Materi tentang dasar-dasar agama Islam pada tahun-tahun pertama lahirnya Islam senantiasa tidak dapat dilepaskan dari masjid. Menurut Johanes Perseden, titik awal dan pusat kegiatan intelektual yang tumbuh subur di negeri-negeri Islam adalah berasal dari masjid.

Bangunan yang biasa disebut “Rumah Allah” ini tidak hanya digunakan sebagai tempat ibadah, tetapi juga sebagai tempat untuk menanamkan aspek-aspek kehidupan intelektual Islam dan memproduksi buku-buku.

Dalam tradisi pesantren pengajaran kitab klasik (Kitab Kuning) menjadi hal yang lumrah. Hal inilah yang merupakan ciri khas di semua lembaga pendidikan pesantren. Kitab yang diajarkan di pondok pesantren merupakan kitab-kitab karya ulama klasik.

Kitab-kitab tersebut berisi sumber ilmu tiada tara dalam menjalani kehidupan di dunia dalam kaitannya dengan hablun min an-naas, dan kehidupan kelak di akhirat kaitannya dengan hablun minallah.

Para santri juga dituntut untuk menghafalkan beberapa bait nadhom pelajaran yang dikaji. Di samping itu, tak lupa dari pengajaran di pesantren adalah Al-Qur’an.

Pada umumnya sistem pelajaran yang dipakai di pesantren adalah sistem sorogan atau pun bandongan. Di dalam suatu pondok pesantren terdapat beberapa peraturan yang harus ditaati oleh semua santri agar terbentuk jiwa disiplin dalam dirinya.

Pada zaman dahulu halaqoh-halaqoh pengajian diselenggarakan di serambi-serambi masjid dengan dipandu oleh seorang guru yang lazimnya dipanggil dengan sebutan ustaz/ustazah.

Para santri mendengar kitab yang dibacakan oleh guru, memberi makna pegon pada kitab, dan mendengarkan penjelasan. Metode ini biasa disebut dengan metode ngaji bandongan.

Metode kedua yang digunakan adalah sorogan, yakni santri menyetorkan atau membacakan kitab yang sudah pernah dipelajari sebelumnya kepada ustaz/ustazahnya dengan tujuan agar bacaannya benar dalam hal i’rob, intonasi, serta arti dan makna dari bagian yang dimaksud di dalam kitab.

Di pondok pesantren saat ini sudah banyak diimbangi dengan sekolah formal. Selain itu, juga digalakkan penerapan bahasa asing seperti bahasa Arab dan bahasa Inggris dalam keseharian santri.

Di samping ngaji yang menjadi ciri khas santri, masalah akhlak juga menjadi salah satu prioritas pengajaran di dalam suatu pesantren. Tak lupa juga dengan amalan-amalan khusus dari kiai yang biasa disebut dengan Ijazah serta tirakat para santri yang insyaallah sangat besar manfaatnya dalam kehidupan.

Kehidupan di pesantren merupakan kehidupan yang sangat nyaman dan baik untuk pembelajaran sehari-hari dalam kehidupan nyata. Tradisi inilah yang membentuk nilai-nilai etika, sosial, dan kebudayaan mulai berkembang dan menciptakan wajah Islam pluralis dan humanis. (Deviyana Khoirotul Ismiyah/Ed.M.Y)


Bagikan

Leave A Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *