Sukses dan Lancar, Fakultas Syariah Gelar Diskusi Dosen Daring Edisi Ramadhan Sesi 3

Sukses dan Lancar, Fakultas Syariah Gelar Diskusi Dosen Daring Edisi Ramadhan Sesi 3
Bagikan

FASYA- Selasa (12/05/2020), Fakultas Syariah adakan diskusi dosen daring edisi Ramadhan untuk sesi yang ketiga. Diskusi dosen dilakukan secara online melalui aplikasi ZOOM.

Kegiatan ini merupakan kerja sama antara tim SINPUH (Sistem Informasi, Publikasi dan Humas) dengan tim KISAH (Konsorsium Keilmuan Syariah) Fakultas Syariah IAIN Surakarta.

Di bawah arahan Dekan Fakultas Syariah Dr. Ismail Yahya, S.Ag., M.A, Fakultas Syariah sukses menggelar diskusi dosen edisi Ramadhan ini. Tentunya juga dengan dukungan semua civitas akademika Fakultas Syariah yang juga melibatkan dosen-dosen Syariah sebagai pemateri.

Adapun narasumber untuk sesi yang ketiga terdiri dari Dr. Aris Widodo, M.Ag dengan materi I’rab Hati dan Muhammad Julijanto, S.Ag., M.Ag dengan materi Islam dan Disabilitas.

Acara dimulai tepat pukul 10.00-11.00 WIB dengan dipandu oleh host yaitu Ahmadi Fathurrohman Dardiri, M.Hum.

Sukses dan Lancar, Fakultas Syariah Gelar Diskusi Dosen Daring Edisi Ramadhan Sesi 3

Pemateri pertama, Muhammad Julijanto, S.Ag., M.Ag dengan materi Islam dan Disabilitas. Dalam paparannya, beliau menjelaskan tentang disabilitas dalam padangan Islam, apa saja ayat-ayat yang menyebutkan tentang disabilitas, dan bagaimana Al-Quran berbicara disabilitas serta keberadaannya dalam kehidupan sosial.

Dalam kesimpulannya, Julijanto menjelaskan,“bahwa ayat-ayat Al Qur’an terdapat term difabel yang kebanyakan menunjukkan konotasi negatif, dimana term difabel digunakan untuk menunjukkan merendahkan seseorang. Namun disabilitas yang dimaksud bukanlah difabel dalam arti yang dipahami pada umumnya yang berupa kecacatan fisik maupun non fisik, melainkan mereka yang cacat teologisnya,” terangnya.

Ia juga menegaskan bahwa,”meskipun secara fisik panca indra mereka berfungsi dengan baik, namun yang menjadi value adalah kemampuan panca indra itu mengambil manfaat yang bermuara pada tauhidullah,” tegasnya.

Pemateri kedua, Dr. Aris Widodo, M.Ag menyampaikan materi tentang I’rab Hati. Dalam paparannya, beliau meminjam “kerangka rumah” Mulla Shadra tentang 4 perjalanan yaitu perjalanan dari makhluk ke Khaliq/ Tuhan, perjalanan di dalam Tuhan bersama Tuhan, perjalanan dari Tuhan untuk (kembali) kepada manusia dan perjalanan di dalam manusia bersama Tuhan.

“Bahasan Mulla Shadra tentang empat perjalanan itu sangatlah detail, luas, dan mendalam. Sehingga Dar Ihya’ al-Turats al-‘Araby menerbitkannya menjadi 9 jilid. Dan mengkompresnya menjadi substansi tidaklah mudah. Oleh karenanya, saya hanya “pinjam” kerangkanya, dan untuk memudahkan pembahasan (mungkin simplifikasi), saya beralih ke “tajwid” hati: idzhar, ikhfa’, idgham, dan iqlab,”paparnya.

Lebih lanjut, Aris Widodo menjelaskan tentang Tajwid dan I’rab Hati.

Pada saat kita idzhar, ibarat nun-sukun masih keras-kentara berhadap-hadapan dengan huruf idzhar, begitu pula ego-diri kita yg masih mengeras di haribaan Tuhan, sehingga terkadang Tuhan memerintahkan A, tapi kita menghendaki B.

Dalam posisi (berhadap-hadapan) seperti itu, mode hati kita, memakai ungkapan Imam al-Gjazali, berada pada posisi berhenti. Ketika dalam mode i’rab hati ini, kita akan mengalami tuna-rasa, yaitu tidak mampu merasakan manisnya ketaatan, dan pahitnya kemaksiatan.

Jika kita ingin “naik tingkat”, kita harus memulai perjalanan menuju Tuhan, fase pertama caranya adalah dengan tajwid ikhfa’: “menyamarkan” diri kita, ketika “berhadapan” dengan Tuhan, sehingga nun-sukun diri kita tidak lagi begitu mengeras-kentara saat berhadapan dengan huruf ikhfa’.

Pada titik ini, kita sudah mulai “menyerah” kepada Tuhan, namun “penyerahan” diri ini baru di taraf gerbang keimanan, dan belum masuk ke dalamnya. Jika kita ingin mulai mencecap manisnya iman kita harus “naik tingkat” lagi.

Untuk kenaikan tingkat ini, kita harus memulai tajwid idgham: nun-sukun kedirian kita harus sepenuhnya “lebur” di dalam huruf idgham, sehingga kedirian kita sama sekali tidak terlihat, dan yg terdengar hanyalah huruf idgham Tuhan.

Pada titik ini, i’rab hati kita, kembali memakai istilahnya Imam al-Ghazali, berada pada mode “fathah”, yaitu ridha kepada Tuhan. Tahap ini sudah mulai masuk ke fase kedua.

Setelah para pemateri menyampaikan materinya, host memberikan kesempatan kepada para peserta diskusi untuk mengajukan pertanyaan.

Kegiatan ini berlangsung dengan sukses dan lancar. Sejumlah peserta diskusi inipun tampak aktif dan antusias sepanjang diskusi berlangsung. (dw)


Bagikan

Leave A Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *