Teguhkan jiwa empati, LIRIK selenggarakan Diskusi daring Buku Generasi Empati

Teguhkan jiwa empati, LIRIK selenggarakan Diskusi daring Buku Generasi Empati
Bagikan

FASYA- Sabtu (9/05/2020), Lembaga Semi Otonom Literasi, Riset, dan Jurnalistik (LIRIK) Fakultas Syariah kembali menyelenggarakan obrolan buku daring untuk kali kedua melalui grup WhatsApp.

Obrolan buku kali ini dikisahkan oleh mahasiswa Hukum Keluarga Islam sekaligus Ketua LSO LIRIK 2019-2020 yaitu Firda Imah Suryani.

Teguhkan jiwa empati, LIRIK selenggarakan Diskusi daring Buku Generasi Empati

Buku yang dibawakan sangat cocok dengan kehidupan masyarakat sehari-hari, khususnya untuk orang-orang yang mengenyam pendidikan seperti mahasiswa. “Generasi Empati” garapan Ahmad Rifa’I Rif’an menjadi buku yang akan diperbincangkan kali ini.

Pengisah menuturkan bahwa dirinya mendapatkan beberapa penerangan hidup akan pentingnya bersikap empati pada diri sendiri dan orang lain selepas membaca buku ini.

Dari judul buku “Generasi Empati”, penulis sudah membuat penasaran para pembaca. Seolah ada makna tersirat dalam judul buku tersebut sehingga penulis berani untuk menuliskannya.

Teguhkan jiwa empati, LIRIK selenggarakan Diskusi daring Buku Generasi Empati

Dalam buku ini, penulis menuangkan kerisauannya terhadap permasalahan generasi mutakhir. Akhir-akhir ini manusia kehilangan tiga hal dalam hidupnya, yaitu sabar, adab, dan empati

Pertama, kehidupan generasi saat ini serba cepat membuat mereka kehilangan sifat sabar. Kedua, generasi saat ini sudah mengabaikan adab dan etika terhadap sesama, padahal adab itulah yang menjadikan mereka terhormat.

Ketiga, zaman telah merontokkan empati dalan jiwa generasi saat ini.

Tatkala terjadi tragedi kecelakaan yang generasi saat ini lakukan justru memfoto dan mempostingnya, bukan menolongnya. Jika manusia sudah kehilangan empati, lantas apa yang bisa dibanggakan darinya? Padahal, puncak dari sifat kemanusiaan adalah saat ia masih memiliki empati dalam jiwanya.

Firda memberikan ilustrasi tentang rendahnya empati saat ini, hal ini tersadar atau tidak terjadi ketika berswafoto bersama teman. Dapat dipastikan pandangan kita terfokus pada diri kita sendiri tanpa memedulikan orang lain. Foto itu bisa dikatakan bagus jika objek yang ada dalam tubuh kita sudah mumpuni dipandang, betul kan?. Kita seperti acuh terhadap foto teman kita yang ikut berswafoto bersama.

Hal-hal demikianlah yang menjadi tamparan keras bagi kita seorang mahasiswa yang dididik untuk beradab dan berilmu, tapi tak berempati.

Buku ini memuat pedoman hidup agar kita tak menyeleweng dari pengikisan rasa empati terhadap sesama. Ihwal demikian, maka semua mahasiswa perlu kembali digugah untuk meningkatkan rasa empati dengan sedikit sadar akan kepedulian sesama.

Diakhir obrolan, Firda menyelipkan gagasannya mengenai rasa empati. “Jika belum bisa berbuat bagi orang lain, paling tidak kita mulai berempati pada diri sendiri. Setidaknya jangan menjadi generasi yang ikut-ikutan mencela dan memaki sikap orang lain tanpa kemauan membenahi prilaku sendiri”.

Adanya obrolan buku ini, diharapkan dapat menjadi dasar bagi mahasiswa untuk lebih mencintai dunia literasi. Dengan membaca, menulis, dan berdiskusi maka mahasiswa secara tidak sadar tengah menjaga kualitasnya sebagai manusia. Salam Literasi!

(M. Baha Uddin/ Ed : Fikri)


Bagikan

Leave A Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *