Upaya Mengatasi Pengangguran Terdidik

Upaya Mengatasi Pengangguran Terdidik
Bagikan

Oleh: Dwi Susanti

(Mahasiswi Jurusan  Hukum Keluarga Islam, Santri PESMA Munawir Sjadzali Fakultas Syariah IAIN Surakarta, Email : dwisusanti3010@gmail.com)

Pengangguran luar biasa hebatnya. Fenomena ini menjadi isu yang tak ada habisnya diperbincangkan. Hal ini sulit dicegah, dikarenakan penanganan yang tidak dipersiapkan sebelumnya. Negara hanya mampu mengurangi pengangguran agar tidak terjadi peningkatan.Pengangguran merupakan suatu hal yang tidak asing lagi didengar diseluruh belahan dunia, terutama di negara Indonesia yang merupakan negara berkembang.Pengangguran merupakan istilah untuk orang yang tidak bekerja sama sekali, sedang mencari kerja, atau seseorang yang sedang berusaha mendapatkan pekerjaan yang layak (Arena Putri, 2016).

Lulusan sarjana di Indonesia mencapai angka 700 hingga 800 ribu tiap tahunnya. Begitu pula masih ditambah lulusan jenjang pendidikan yang lain, seperti SMK/SMA, SMP, SD, bahkan yang tidak mengalami masa sekolah. Dalam setahun Indonesia bisa mencetak sekitar 2juta angkatan kerja baru. Kabar gembiranya, tahun ini Badan Pusat Statistik atau BPS merilis informasi terkait data pengangguran di Indonesia yang mengalami penurunan. Pada Agustus 2017 lalu, BPS mengungkapkan bahwa jumlah pengangguran naik menjadi 7,04 juta jiwa. Sebelumnya hanya 7,03 juta jiwa di bulan Agustus 2016. Peningkatan ini namun diiringi dengan penurunan angka Tingkat Pengangguran Terbuka atau TPT, dari 5,61% menjadi 5, 50%. TPT sendiri merupakan prosentase jumlah pengangguran yang termasuk dalam penduduk usia kerja terhadap jumlah angkatan kerja (Maria Juwita, 2018).

Tahun ini tepatnya pada bulan Februari 2018, BPS melaporkan bahwa jumlah pengangguran di Indonesia berkurang sebanyak 140.000 jiwa. Prosentase TPT yang juga turun ke angka 5,13% dari 5,33% pada Februari 2017. Total jumlah angkatan kerja tahun 2018 naik sebanyak 2,39 juta dari Februari 2017 menjadi 133, 94 juta jiwa. Jumlah pengangguran sebanyak 6,87 juta dan yang bekerja sebanyak 127,07 juta jiwa (Hendra Kusuma, 2018).

Terjadinya pengangguran disebabkan oleh beberapa faktor. Pertama, banyaknya pengangguran terjadi dikarenakan lemahnya daya pikir masyarakat untuk menciptakan lapangan kerja. Kebanyakan orang di Indonesia tidak berani mengambil resiko yang besar untuk menjadi wiraswasta. Mereka lebih suka menjadi pekerja. Telah kita ketahui, jika hanya menjadi pekerja atau karyawan,akan hidup dibawah tekanan atau suruhan. Berbeda jika kita menjadi pengusaha, maka kita berpeluang membangun lapangan kerja. Kedua, tingkat pendidikan. Rendahnya tingkat pendidikan mengakibatkan kesusahan untuk mencari pekerjaan.Padahal, lapangan pekerjaan membutuhkan pekerja yang memiliki riwayat pendidikan yang baik dan pengalaman yang luas.

Ketiga, adanya diskriminasi ras, gender, dan penyandang dissabilitas. Kondisi dan diskriminasi terhadap penyandang dissabilitas dalam peluang bersaing di dunia kerja menyebabkan mereka menyerah dalam mencari pekerjaan, dan mengambil jalan pintas sebagai pengemis. Keempat, bergantung pada harta orangtua. Tak dapat dipungkiri bahwa dalam beberapa kasus ada anak yang terlahir didalam keluarga  mampu yang menyebabkan mereka bergantung pada harta keluarganya. Mereka lebih memilih untuk tidak bekerja dikarenakan keluarga mereka sudah mampu untuk mencukupinya. Masih banyak faktor-faktor lainnya yang menyebabkan adanya pengangguran.

Kebanyakan tingkat pengangguran didominasi oleh anak muda. Baik anak muda yang tidak sekolah, yang lulus SMA, bahkan banyak juga lulusan sarjana tapi mengalami pengangguran. Kementerian riset, teknologi, dan Pendidikan Tinggi mencatat sekitar 8,8 % dari total 7 juta pengangguran di Indonesia adalah sarjana. Kondisi tersebut sangat memprihatinkan, apalagi daya saing semakin kuat, begitu pula dengan pekerja asing yang datang ke Indonesia.

Bupati Nasir menuturkan bahwa perguruan tinggi dan para mahasiswa harus bisa beradaptasi dengan teknologi jika ingin bertahan dalam persaingan. Menurut dia, jumlah sarjana yang lulus setiap tahun tak sebanding dengan serapan tenaga kerja. Untuk itu pemerintahan terus berupaya memperluas lapangan kerja dan meningkatkan produktivitas (Dhita Seftiawan, 2018).

Kesulitan sarjana menembus dunia kerja karena relevansi antara mutu perguruan tinggi dan kebutuhan dunia industri masih rendah. Begitu pula tidak jarang lulusan perguruan tinggi yang cenderung terlalu banyak memilih pekerjaan karena menganggap memiliki kompetensi lebih tinggi daripada lulusan SMA atau SMK. Banyak lulusan sarjana tidak mau melaksanakan pekerjaan yang setara dengan SMA/SMK. Kemenristekdikti mendata, tahun lalu jumlah tenaga kerja lulusan sarjana hanya sebesar 17,5%. Persentasi tersebut lebih kecil ketimbang tenaga kerja lulusan SMA/SMK yang mencapai 82%, sedangkan lulusan SD mencapai 60 %.

Dampak terjadinya pengangguran pun beragam, diantaranya adalah mengakibatkan terjadinya kemiskinan, memunculkan tindakan kriminal (seperti perampokan, pencurian) dan menurunkan tingkat keterampilan. Semakin lama menganggur, semakin turun pula tingkat keterampilan seseorang. Pengangguran adalah salah satu masalah yang harus ditanganidengan tepat dan cepat. Banyaknya dampak dari adanya pengangguran, maka pemerintah dan masyarakat Indonesia harus bersinergi mengatasi fenomena tersebut.

Salah satu upaya menanggulangi penganggurandengan memberikan pendidikan gratis bagi yang kurang mampu. Adanya pendidikan gratis, maka mereka tetap bisa mendapatkan ilmu yang akan digunakan untuk bekal dalam bekerja. Sinergi pemerintah dalam menyediakan lapangan kerjadapat mengatasi tingkat pengangguran. Namun tidak hanya dari pihak pemerintah, masyarakat juga harus bersinergi untuk membangun lapangan kerja bagi yang lainnya. Selainitu perlunya  pengembangan lembaga pelatihan kerjaseperti kursus keterampilan (seperti kursus menjahit, membuat kue, LPK bahasa, dan lain-lain). Sehingga walaupun mereka tidak mengenyam pendidikan formal namun mereka tetap dapat bekerja dan bisa membuka usaha yang mampu menciptakan lapangan pekerjaan. Pentingnya solusi ini diharapkan mampu meminimalisir dari tingginya angka pengangguran.

Banyaknya pengangguran dapat membahayakan negara Indonesia. Negara akan sulit mengalami kemakmuran dan kesejahteraan. Untuk itu, jangan sampai pengangguran mengalami peningkatan terus menerus. Pengangguran di kalangan sarjana juga cukup tinggi. Padahal mereka telah menempuh pendidikan yang cukup lama, namun tetap saja pengangguran di kalangan sarjana masih banyak terjadi. Sebagai mahasiswa harus sungguh-sungguh dalam belajar, jangan hanya untuk meraih predikat sarjana saja. Sarjana yang menganggur, kebanyakan dikarenakan tidak seriusnya mereka dalam menuntut ilmu selama menjadi mahasiswa. Mainset yang keliru seperti bersikap acuh dan tak peduli dengan kuliah mereka. Penguatan atmosfir akademik, peningkatan kompetensi dan didukung oleh kemampuan yang memadai aspek afektif atau sikap mental, akan memudahkan lulusan/para sarjana untuk bersaing di dunia kerja.

Untuk memenangkan persaingan maka lulusan/sarjana harus mampu untuk menggali potensi diriya sendiri. Potensi diri merupakan sikap mental yang secara implisit merupakan bentuk dari “personality” seseorang. Personality yang kuat akan membentuk karakter diri yang kuat, yang menjadi modal untuk memenangkan kompetisi di dunia kerja sebagai upaya meminimalisir pengangguran. Mari kita bangun personality yang kuat untuk menjadi manusia Indonesia seutuhnya. Say No for Unemployed. (LPH)


Bagikan

Leave A Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *