Wanita dan Pendidikan

Wanita dan Pendidikan
Bagikan

Oleh: Tsalisa Fatwa Madani

(Santri PESMA Munawir Sjadzali Fakultas Syariah IAIN Surakarta, Mahasiswi Hukum Keluarga Islam)

Wanita semakin dekat dengan pendidikan. Saat ini perempuan mendominasi sebagai seorang ilmuwan dalam pendidikan. Kehadiran perempuan pada tataran pendidikan tampaknya membuat kaum adam tersaingi. Bukan persoalan penampilan, melainkan karena kemampuan wanita itu tampak lebih unggul. Hal ini sudah dibuktikan. Pada zaman Rasulullah, hak-hak wanita mulai memperoleh kenaikan derajat sama halnya dengan laki-laki. Rasulullah menyebarkan Islam dengan nilai-nilai humanis, adil, dan bijaksana. Pada masa itu Rasulullah juga meminta saran dan pendapat dari para istrinya dalam menyelesaikan suatu masalah.

Sehingga makna wanita sendiri seringkali identik dengan sesuatu yang berkilauan, sesuatu yang indah seperti bunga, dan bulan. Kita sering mendengar “jika ingin memiliki pasangan cantik maka harus memiliki kelimpahan harta”. Karena cantik itu mahal, apakah sampai di situ kita memberikan nilai atau cap kepada wanita. Di satu sisi ada yang menilai bahwa wanita itu identik dengan kata manja, cerewet, posesif, bahkan tak mau mengalah, dan lain-lain . Bukan berarti kita menyalahkan pendapat itu, sebab wanita sudah ditakdirkan memiliki fitrah cantik sebagai anugerah yang diberikan Tuhan Yang Maha Esa.

Kontrofersi wanita tak sampai disitu saja, ada berbagai polemik yang terus di hadapi wanita. Hal ini dapat kita lihat dari bagaimana perjuangan dan perjalanan tokoh-tokoh feminis dalam mengangkat derajat perempuan. Dalam buku yang berjudul Nilai Wanita karangan Moenawar Khalil menjelaskan bagaimana peradaban zaman dahulu menentang dan mencemooh ketidakadilan terhadap hak-hak perempuan. Bahkan, dalam keberadaannya, wanita tidak dianggap ada atau tidak berarti. Menurut penyelidikan para sarjana, golongan wanita di dunia ini sejak dari dahulu sampai sekarang telah melalui tiga periode yang berbeda-beda seperti tipologi periodesasi menghinakan, mendewakan, dan menyamakan.

Maksud dari menghinakan adalah pada masa lalu kelompok wanita pada umumnya dipandang sebagai binatang, bahkan lebih rendah dari binatang. Kaum perempuan memperoleh diskriminasi dan pelecehan seperti barang dagangan yang dijual di pasar-pasar. Selain itu, gagasan tentang wanita di masa lalu juga mendewakan.

Pada umumnya wanita dipandang sebagai maha dewi yang dipuja dan dipuji, dimuliakan dan dihormati, tetapi demi memuaskan hawa nafsu birahi kaum lelaki. Pada periode kedua ini sekali pun mereka sudah mendapatkan keleluasaan atau kebebasan hak selaku makhluk bangsa manusia, tetapi tingkatan mereka itu hanya sekedar hal yang tabu. Tidak lebih hanya sekedar alat pelepasan hawa nafsu lelaki, pemuaskan syahwat dan penghibur hati kaum lelaki bangsawaan.

Pada periode menyamakan ini disebut zaman kemajuan. Masa di mana pembangunan, golongan wanita disamakan 100 persen dengan golongan laki-laki. Wanita harus merdeka, bebas dari semua ikatan, harus sama ikatannya dan segala sesuatunya dengan laki-laki. Wanita harus sama tingkatannya dan segala sesuatunya dengan laki-laki.

Wanita di dalam bidang kesehatan ternyata lebih cepat dewasa dan berkembang di bandingkan dengan laki-laki. Salah satu fitrah yang dimiliki wanita adalah lemah lembut dan pengertian. Di sinilah peran wanita akan merasa bertanggung jawab membantu terhadap orang lain yang ada disekitarnya. Maksudnya, wanita akan menambah kemampuan yang ada di dalam dirinya sehingga bisa bermanfaat bagi sekitarnya. Salah satu wisudawati IAIN Surakarta lulusan tahun 2019 berhasil mendapat IPK terbaik. Alimmatul Ghoriyah berhasil mendapatkan IPK terbaik walaupun sempat terkendala biaya. Namun, hal itu tidak menghalangi dirinya meraih prestasi.

Ada satu hal yang menarik dari Alimmatul Ghoriyah, ada salah satu pemicu yang membuat diri seorang Alimmatul untuk bangkit, yaitu orang tua dan derajat keluarga. Pemikiran terhadap masa depan tak luput dari rasa ingin untuk berubah. Perubahan itu dimulai dari kesadaran diri sendiri demi membanggakan orangtua. Inilah alasan mengapa sebagian wanita selalu berjuang atas apa yang ia miliki.

Kesetaraan pendidikan wanita dan laki-laki sebenarnya bukan untuk menyaingi atau merendahkan satu pihak, melainkan untuk kemaslahatan umat dan bangsa. Dari wanita yang lemah lembut inilah lahir penerus bangsa, dan lahir para cendekiawan, karena wanita merupakan kiblat pertama anak untuk belajar. Moh. Hatta pernah berkata” Jika kamu mendidik satu laki-laki, maka kamu mendidik satu orang. Namun, jika kamu mendidik satu perempuan, maka kamu mendidik satu generasi.” (Ed. dw)


Bagikan

Leave A Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *